Suara Pembaharu ideas 2018

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut Muktamar IMM Ke - XVII

Penulis : Taufan Putra Revolusi Korompot (Ketua Bidang Hikmah Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)
Taufan Putrev Korompot
Kelahiran IMM bukanlah peristiwa kebetulan dalam sejarah (an historical accident). Melainkan keharusan sejarah (historical inevitability). Sebagaimana Farid Fathoni (1990: 102), bahwa kelahiran IMM merupakan respon atas berbagai persoalan bangsa, ummat dan masyarakat. Kelahiran dengan frame itu, tentu tidak cukup untuk dikatakan layak. Namun ternyata di balik keinginan besar para pendiri IMM, terdapat dorongan kuat dari Muhammadiyah itu sendiri untuk membentuk entitas organisasi mahasiswa Islam.

Keinginan Muhammadiyah itu pun di tafsirkan dalam dua penyebab, yakni pertama faktor Internal, dimana kelahiran IMM diharapkan mampu melakukan kristalisasi faham idealisme yang kuat untuk mengembangkan doktrin al-Qur’an dan Hadist dan cita-cita Muhammadiyah itu sendiri. Kedua, faktor eksternal, sebagai penyambung dan sumbuh gerakan humanisnya bersama komonen masyarakat luas.

Sebagaimana dalam doktrin trikompetensi IMM yang selama ini muncul. Faktor ini juga telah membuat IMM “diberikan stigma nakal” dalam berbagai persfektif, karena memiliki karakter progresifitas gerakan yang dilakukan sangat kritis terhadap situasi dan kondisi. Uniknya bahwa IMM lahir memang untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dari rongrongan penjajahan saat itu. Kelahiran IMM, untuk menjawab realitas yang mulai meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai pijakan.
Mengacu pada langgam sejarah, tentu IMM tak bisa menutup mata dari realitas yang jauh dari konsep ideal, sehingga cara IMM Merespon ketidakidealan itu dengan mencetus trikompetensi; intelektual, religiusitas, dan humanitas. Dengan demikian, doktrin trikompetensi itu menjadi paradigm dan landasan kuat bagi sebuah organisasi gerakan; pertama, kader-kader IMM dituntut untuk mengisi ruang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Kedua, mewujudkan cita-cita Muhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Baik dari segi akidah, praktek keagamaan, maupun muamalah. Penerjemahan masyarakat Islam yang dimaksud menjamin generasi ummat yang berkeadaban dan membawa pencerahan serta merdeka.

Memasuki usia 51 tahun, tentu saja bukan hal mudah untuk dipertahankan bagi sebuah organisasi. Namun sudah lebih dari cukup untuk meneguhkan kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi zaman. Oleh sebab itu, sebagai organisasi otonom Muhammadiyah bahwa harus menjadi pelopor, penerus, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Dalam Anggaran Dasar (ART), dijelaskan dengan gamblang pada BAB III Pasal 7, bahwa tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia, untuk mewujudkan cita-cita Muhammadiyah. Kader IMM harus menjadi teladan bagi umat. Maka dalam sala satu tujuan itu, ahlak ditekankan secara total. Tanpa akhlak, Identitas mahasiswa tidak jelas dan bias keluar dari kekuatan moralnya. Taka ada yang perlu diperdebatkan bahwa IMM harus tampil untuk memandu perjalanan umat Islam.

Salah satu faktor disorientasi gerakan mahasiswa yakni buruknya moralitas sehingga tidak mengedepankan akhlak.Ikatan MahasiswaMuhammadiyah sebagai pelopor, penerus, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyahmemiliki peran vital.Identitas kaum intelektual, dengan basis ideologi yang komprehensif.IMM  memposisikan diri sebagai ujung tombak untuk mencerahkan umat. Menjawab problematika umat saat ini, yang mayoritas secara kuantitas, namun minoritas dalam hal kualitas.IMM dituntun menjadi “Agen of Enlighment”.Dengan kekuatan penuh intelektualitas kader IMM tak bisa berdiam di atas menara gading. Namun harus ”membumi” dalam bentuk praksis gerakan.

Dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, IMM diperhadapkan pada segudang problem, seperti kutub ekonomi yang dibawah kendali liberalis-kapitalistik, hukum tebang pilih, identitas ke-Indonesiaan yang makin luntur, oligarki politik dan derregulasi kebijakan sehingga merugikan rakyat. Karena IMM lahir untukmengabdi pada bangsa.Bukan pada penguasa.Maka sudah sepatutnya IMM berkhidmat untuk gerakan kemanusiaan sehingga memberi dampak sejarah sejak kelahirannya.Hal itu dilakukan untuk mewujudkan tujuan mulia dan cita-cita Muhammadiyah.

Dikala reformasi berjalan seiring gempuran pragmatisme dan politisasi gerakan pemuda mahasiswa semakin marak sehingga menyebabkan disorientasi gerakan.Maka tentunya di butuhkan Idealisme gerakan berlandaskan pada karakter dan identitas yang melekat, yakni sosial of control, moral force, iron stock, dan agent of change. Hal inilah yang perlu dipertahankan. Untuk mendowngrade gerakan IMM maka tentu akan dilihat dari berbagai persfektif model pengabdian sebagai tafsir ejawantah terhadap persoalan bangsa; pertama,pengabdian sosial of controldan kedua; sosial kemasyarakatan.

Regulasi dan kebijakan pemerintah hari ini lebih banyak yang cenderung merugikan negara dan korbankan rakyat.Karena berangkat dari spirit liberal-kapitalistik. Maka IMM harus mampu menunjukkan identitas inteleltualnya, sebagai control social.IMM harus terus meningkatkan bargaining power sehingga mampu mempengaruhiregulasi yang tidak memberi keuntungan kepada rakyat.Dengan berbagai pola gerakan yang ada, paling tidak harus dievaluasi sampai tingkatan paling bawah, baik konsep, ide dan gagasannya yang mampu dipertangungjawabkan secara ilmiah maupun aspek gerak ekstra parlementer. Bisa juga beralih ke bentuk gerakan lain guna mempengaruhi pengambilan keputusan di lingkaran kekuasaan eksekutif dan eksekutif.

Ditegaskan dalam Nilai Dasar Ikatan sebagai cermin identitas gerakan IMM, bahwa segala bentuk ketidakadilan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.Gerakan perlawanan di tafsirkan sebagai kewajiban bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Jalan Ketiga: Gerakan Organik Tarik Mandat

IMM Sebagai kaum intelektual (raushan fikir)—meminjam bahasa ali syariati bahwa seorang intelektual tak bisa buta terhadap realitas sehingga dapat meleburkan diri ditengah-tengah rakyat,  berfikir revolusioner,  menentang reaksioner, melawan ketidakadilan, dan membela rakyat tertindas, kaum dhuafa (wong Cilik) dan mustadhaafin.

Kader Ikatan adalah pemikir tercerahkan sehingga dikenal intelektual sejati. Bukan sekedar sarjana dan ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian.Tapi  kelompok orang yang selalu peka terhadap realitas, terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, mencari solusi dari problematika masyarakat, merumuskanya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.

Hampir selaras dengan Ali Syariaty, Antonio Gramsci, Filsuf asal Italia,  Menyematkan istilah Intelektual organik, kepada mereka yang mampu merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakatdan memihak kepada mereka.Dalam konteks kekinian, IMM harus tampil menjawab problematika kebangsaan.Karena untuk itulah IMM lahir.Kondisi bangsa disaat IMM lahir, tidak jauh berbeda dengan kondisi bangsa hari ini.

Sebagai organisasi dakwah, IMM harus tetap mempertahankan identitasnya.Bahkan maju selangkah lagi, dalam konteks dakwah kebangsaan, meluruskan kiblat bangsa.Menyampaikan yang benar terkait hal-hal yang menyangkut masalah kebangsaan.Lebih tepat lagi, ketika gagasan tarik mandate luruskan kiblat bangsa di lanjutkan sebagai replektifitas dan reportprogresif sebuah tanggungjawab dengan pertegas dan perluas doktrin perjuangan dalam menegakkan dan menjunjung tinggi Islam, keadilan dan kemakrufan sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Tentu itu merupakan indikator sebuah jalan gerakan sebagai basis kuat untuk merealisasikan keadilan. Maka tentu yang dimaksud oleh khalifah Umar dalam pidatonya yang menyebut kalimat “fi Sabilillah” merupakan bentuk jalan ketiga yang di gunakan oleh Antonie Giddens untukmengambil pilihan doktrin berdasarkan Al-qur’an. Baginya itu merupakan motivasi pokok dalam sebuah gerakan dan pemikiran,yaitu dakwah amar ma'ruf nahi mungkar dan tajdid, dan mengembangkan da'wah al-amru bil 'adli dan an-nahyu 'anil dhulmi, yakni berjuang menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman (QS an-Nahl: 76 dan 90).

Jika dahulu K.H.Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan salah satu Gerakan Dakwah meluruskan kiblat masjid, maka di usia setengah abad, IMM mengusung visi Dakwah Kebangsaan, Meluruskan Kiblat Bangsa.Bangsa Indonesia tidak lagi berkiblat pada nilai-nilai ke-Tuhan-an yang transformasinya pada nilai-nilai kemanusiaan Universal.Melainkan berkiblat pada para Neo-Imperialis.

Kader IMM harus mampu menjadi yang terdepan saat Nilai-nilai Islam tak lagi diindahkan, IMM wajib berada di depan ketika nilai-nilai kemanusiaan universal dilanggar.“Telogi Al-Maun, Menegaskan kepada kita bahwa tidak memberi makan orang miskin termasuk sebagai kelompok pendusta agama. Dalam konteks kekinian, kemiskinan terjadi secara sistematis dengan regulasi dan kebijakan titipan, serta penjajahangaya baru (Neo-Imperialisme). Maka melawan system yang menindas, penjajahan gaya baru, menjadi keharusan agar tidak  dikategorikan sebagai kelompok pendusta agama.

Efek dari regulasi dan kebijakan pemerintah yang menguntungkan segelintir elit, adalah masalah-masalah sosial masyarakat, seperti kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, penganguran, dan sulitnya layanan kesehatan.Lingkaran setan yang terus mencekik leher kaum dhuafa dan mustadha’afin,rakyat miskin dan tertindas.Maka salah satu bentuk pengabdian kepada bangsa dan Negara adalah IMM turut terlibat dalam upayamemecahkan problem yang nampak kasat mata. Turun kemasyarakat, dan meningkatkan produktifas hidup rakyat kecil atau istilah pak Presiden, “Wong Cilik”,  agar dapat  hidup layak, dinegeri yang layak huni ini.

Gerakan sosial-kemasyarakatan bagian dari bentuk memutus sekat antara mahasiswa dengan rakyat.Pasca reformasi, mahasiswa seakan menjadi elitis.Gerakan mahasiswa nyaris tidak mendapat dukungan rakyat. Bahkan ketika penguasa gerah dan merasa tergangun kekuasaannya, saat melihat nalar kritis mahasiswa yang  semakin “radikal”, maka Rakyat Sipil dan Militer dijadikan tameng untuk diperhadapkan dengan mahasiswa. Inilah yang terjadi Ketika apa yang dilakukan mahasiswa tidak mampu diterjemahkan sampai kepada masyarakat.

Pola gerakan sosial-kemasyarakatan tersebut bisa berupa desa binaan, pemberdayaan komunitas, ataupun pola gerakan lain yang bersifat taktis-strategis.Beberapa struktur IMM diberbagai daerah telah memulai menggagas desa binaan. Membantu meng-improvepengetahuan dan kompetensi masyarakat, sehingga meningkatkan produktifitas dan kualitas hidup masyarakat. Harapannya, Pasca Muktamar IMM XVII pola gerakan ini menjadi sebuah brands gerakan IMM secara nasional.

Menduniakan Gerakan

Beni Pramula dalam pidato milad IMM bahwa “pemuda Indonesia khususnya kader-kader IMM Se-Nusantara harus maju, dan menyebar ke berbagai belahan dunia,  Berfikir besar, bermimpi dan bercita-cita besar lalu kembali ke tanah air dengan segudang pengalaman untuk membangun Bangsa”.Konsep menduniakan gerakan bukanlah konsep untuk gagah-gagahan. Keberangkatan kader IMM ke belahan dunia adalah kesempatan yang langka untuk menduniakan ide dan gagasan.Sehingga tidak hanya kembali dengan segudang dokumentasi untuk dipamerkan pada media sosial yang sedang trend. Namun Ide dan gagasan IMM mampu mewarnai dinamika kehidupan global.

Ide, gagasan dan nilai-nilai perjuangan Ikatan tak bisa berhenti dalam skala nasional.Namun harus mendunia. Meminjam Bahasa Soekarno, bahwa nasionalisme kita, bukanlah nasionalisme chalvinistik. Berlebihan membanga-bangakan, dan menetapkan kesetiaan penuh pada negara.Sebuah bentuk ekstrim yang mengakui bahwa negaranya tidak pernah melakukan kesalahan. Rasa kebanggan yang berlebihan terhadap kejayaan negara bangsa., cenderung merendahkan bangsa lain, Sehingga Rakyat Indonesia, tak bisa apatis terhadap dinamika internasional. Begitupun IMM, tak bisa tutup mata dengan apa yang terjadi di Negara-negara yang saat ini masih dalam jeratan para neo-imperialis.

Sebuah langkah maju ketika IMM mampu menduniakan ide dan gagasannya. Karena, sistem yang terintegrasi secara global, memungkinkan menguasai problematika negara lain, akan berpengaruh dalam negeri.Maka IMM tidak bisa menutup mata pada geopolitik.Salah satu produk Geopolitik adalah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dimana pergerakan barang, jasa,  perdagangan dan sumber daya manusia yang telah disepakati akan bebas keluar masuk di antara negara-negara ASEAN.

Disaat Negara ASEAN telah siap, Bangsa Indonesia masih duduk tenang, tanpa persiapan matang. Kita masih kekurangan tenaga kerja terampil, yang akan terus berlanjut hingga MEA diberlakukan. Dalam daftar World Competitiveness Rankings 2013. Daya Saing Indonesia berada di Peringkat 39, dibawah  dari negara besar ASEAN,  seperti Singapura di peringkat 5, Malaysia 15 , Thailand 27, bahkan 1 peringkat dibawah Filipina yang berada di posisi 38.Belum lagi bicara produk industry dan penguasaan teknologi.Akibatnya, Indonesia dengan penduduk mencapai 237.641.326 Juta Jiwa (BPS), berpotensi besar menjadi objek market bagi negara-negara ASEAN.

Ide dan gagasan IMM wajib mendunia, karena sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang berlandaskan Islam,  Islam Rahmatan Lil Alamin.  Islam yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.Islam yang sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan, dan basis bagi moralitas yang tidak bertentangan dengan sifat dasar manusia.Islam hadir sebagai agama pembebasan. Rasulullah SAW sebagai revolusioner sejati, mampu menerjemahkan pesan “langit” sehingga dipahami “bumi”. Rasul yang mampu membawa umat Manusia merdeka.Merdeka dari penjajahan kaum jahiliah, dan merdeka dari Kejumudan.

Maka wajib hukumnya, IMM sebagai “Mahasiswa Pengikut Nabi Muhammad” untuk membawa misi ketuhanan, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang dilanggar dibelahan dunia lainnya.Seperti invasi militer terhadap Irak, dan Perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Kader-kader IMM dituntut menjadi Agent Of Enlighment (Agen Pencerahan).Gagasan-gagasan diatas, dengan semangat yang besar, harapan besar, mimpi besar, hanya akan menjadi sebuah gagasan saja. Berhenti diatas kertas, berhenti di tataran ide.Bersemayam didalam memori otak kita, jika tak mampu menjaga, mempertahankan, bahkan meningkatkan fundamen pokok di dalam IMM.Yaitu kaderisasi. Karena kaderisasi  akan mewujudkan kader yang mumpuni secara kualitas dan kuantitas, berintegritas secara moralitas dan punya kapasitas intelektualitas.  Sehingga itu kaderisasi perlu menjadi focus utama. Perlu direvitalisasi sehingga mampu menjawab tantangan zaman hari ini. Serta pemerataan agar menyentuh keseluruh daerah se-Nusantara.

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.