SUARA PEMBAHARU - Pemerintah Desa (Pemdes) Kotabunan Barat (Kotbar), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), dianggap arogan dengan meletakkan material untuk pekerjaan jalan di depan gerbang masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kotabunan tanpa adanya pemberitahuan, bahkan saat ini sudah memakan korban.
"Usai pulang sekolah, saya berboncengan dengan teman dan motor yang dikendarai tergelincir di antara material, pinggul saya sekarang terasa sangat sakit, karena terhantam sejumlah material yang ditaruh di depan gerbang sekolah itu," ucap salah satu staf di sekolah itu kepada sejumlah media, Selasa (6/9).
Hal, katanya, ini, akan dipertimbangkan untuk dibawa keranah hukum, pasalnya selain mengganggu ketertiban umum dan keselamatan, Pemdes juga seakan-akan acuh tak acuh dengan kebijakan mereka.
"Sekarang saya dan teman saya sudah menjadi korban, nah siapa yang mau bertanggung-jawab. Sembarangan sekali menaruh material di depan sekolah, tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu," keluhnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan sejumlah siswa saat ditemui media, usai jam belajar sekolah, mereka mengeluhkan material yang ditaruh Pemdes kotbar sangat berbahaya untuk keselamatan mereka.
"Sekarang mo maso ka sekolah sudah susah, batu dengan dengan pasir dorang so taruh di muka sekolah, kase lapas bagitu le di tengah-tengah jalan, apalagi buat torang yang bawa motor ka sekolah, lain kali jaga tapalisi," ucap sejumlah siswa di sekolah itu dengan logatnya.
Ditempat yang sama, Kepala MTs Negeri Kotabunan Sakila Ambarak saat dikonfirmasi terkait soal ini mengatakan, dengan menaruh material di depan gerbang masuk sekolah, menunjukkan sikap arogan dan ketidak sabaran Pemdes Kotbar dalam mengikuti prosedur yang ada.
"Ini sangat berbahaya bagi keselamatan anak-anak siswa, guru dan staf yang ada di sekolah kami. Lihat, barusan staf saya cilaka di situ. Ini merupakan sikap arogan, ingat ini tanah sekolah, bukan tanah milik desa. Jika mereka ingin tanah ini menjadi jalan desa, mereka harus mengikuti prosedur, bukan main taruh meterial di depan gerbang seperti ini," tegasnya.
Menurut Ambarak, Pemdes Kotbar tidak pernah melayangkan surat permohonan hibah atau izin pembuatan jalan ke sekolah, malah sekarang tanpa ada kesepakatan Pemdes sudah menaruh material tepat di depan pintu gerbang.
"Ini sertifikat, kwitansi pembelian tanah dan IMB sekolah, mereka punya dasar apa. Sebelumnya, kami sudah menghibahkan 2,5 meter untuk jalan desa," bebernya sambil menunjukkan surat-surat tanah milik sekolah kepada media.
Ditempat terpisah, Pemdes Kotbar melaui Sekretaris Desa Wahyudi Damopolii berkilah bahwa, secara historis tanah itu memang sudah sejak lama merupakan jalan utama menuju perkebunan warga.
Kami sudah menghubungi Kepala Kemenag Boltim, namun jawaban dari mereka harus mengikuti prosedur. Surat dari desa ke Kemenag Boltim akan diteruskan ke Kantor Wilayah Kemenag Sulut, lalu ke Kemenag Pusat dan begitu juga proses baliknya," ucap Damopolii.
Dari, katanya, proses seperti itu terlalu lama, Pemdes Kotbar mengambil kebijakan untuk segera melaksanakan pekerjaan jalan dengan lakukan penimbunan material ditengah jalan, depan MTs Kotabunan.
"Kalau tidak dibikin seperti itu, pekerjaan jalan ini tidak akan selesai dan DD juga sudah habis. Kami tidak mengklaim tanah MTs, namun hanya ingin meluruskan jalan. Untuk masalah penurunan material silahkan tanya ke Kepala Dusun II," katanya. (Dany)
Post a Comment