Suara Pembaharu ideas 2018

DIA yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini.

Sebagai akibatnya, kita melihat bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, ataw jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly, pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

Lima tahun yang lalu, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya, pada hari-hari ini. Pencalonan Elly sebagai gubernur, kali ini dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Kali ini, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum, mereka yang memiliki kritisisme politik tidak akan begitu saja percaya bahwa apa yang sekarang terjadi pada Elly, sebagaimana yang dia alami lima tahun sebelumnya, adalah murni persoalan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, dengan kritisisme yang cukup, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.
Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, lima tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan” yang sesungguhnya tidak cukup kuat pijakannya di bumi nyiur melambai sendiri. Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu.

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. Maka, ketika Elly mencalonkan dirinya sebagai pemimpin warga Sulut, semua orang tahu (termasuk lawan-lawannya) bahwa Elly adalah satu-satunya tokoh politik hari ini yang “terpilih” untuk mewakili Sulawesi Utara dalam arti yang paling politis dari kata itu.

Apalagi hari ini, pada pemilihan kepala daerah di tahun 2015 ini. Peta politik Indonesia sedang didesain ulang. Naiknya Jokowi ke tampuk kekuasaan nasional setahun yang lewat adalah momentum bagi kebanyakan politisi untuk menulis ulang popularitas politik mereka dengan bertumpu bukan hanya pada kesan kedekatan dengan rakyat tapi juga pada kecakapan memimpin yang bersifat manajerial. Bagaimanapun juga, semata popularitas terbukti tidak mampu menahan jatuhnya rupiah atau kemerosotan ekonomi pada umumnya. Dalam hal satu ini, kita membutuhkan kecakapan manajerial.
Persoalannya, budaya politik kita belum terbiasa dengan model popularitas yang diimbangi dengan kecakapan manajerial seperti itu. Di satu pihak, politisi kita masih terbiasa dengan model popularitas yang dikatrol oleh kekuatan elit partai atau selebrasi media dan, di pihak lain, mereka tidak memiliki kecakapan manajerial. Apakah Elly memenuhi kriteria kepemimpinan seperti ini? Kita boleh curiga bahwa pada titik inilah sesungguhnya ketakutan yang merebak pada figur Elly itu datang. Berbeda dari lawan-lawannya saat ini, Elly dan pasangannya, adalah kandidat pemimpin yang pernah menjadi pemimpin. Bertugas di posisi eksekutif dan secara nyata berurusan dengan persoalan-persoalan manajerial yang kita maksudkan.

Sekarang, mari kita kembali pada ketakutan itu. Dengan ketokohannya, Elly memenuhi semua kriteria yang kita butuhkan untuk menjadi pemimpin Sulut saat ini. Sistem persebaran informasi di kalangan masyarakat Sulawesi Utara jelas bisa menyampaikan informasi seperti itu hingga ke kalangan terbawah masyarakat. Amatan yang lebih membumi, tanpa membutuhkan detail rumit survey dan penelitian akan menempatkan Elly pada posisi yang jelas mengancam kenyamanan lawan-lawannya untuk memegang kekuasaan. 

Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”. Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada lima tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (RJP)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.