![]() |
| Syamsu Hidayat Daud |
penulis ; Syamsul Hidayat Daud (Mahasiswa Pasca Sarjana ITB)
ORTODOKSI Islam Nusantara sederhananya memiliki tiga unsur utama, pertama, kalam (teologi) Asy'ariyah; kedua, fiqh Syafi'i--meski juga menerima tiga mazhab fiqh Sunni lain; ketiga, tasawuf al-Ghazali, baik dipraktikkan secara individual atau komunal maupun melalui tarekat Sufi yang lebih terorganisasi lengkap dengan mursyid, khalifah dan murid, dan tata cara zikir terentu. (Prof Azyumardi Azra, Republika, 18 Juni 2015).
Demikian juga dengan tulisan Muhammad Sulton Fatoni, Wakil Sekjend PBNU, sebagaimana tulisannya yang dimuat di kolom opini republika, 19 Juni 2015, dalam tulisan itu ingin mengeaskan bahwa islam di nusantara identitasnya sebagaimana praktek keagaamaan kelompok tertentu, demikina tulisannya :
"Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari pernah menggambarkan keislaman negeri jawa pada abad ke-20 dalam kitabnya Risalatu Ahlisunnah wal jamah, sebagai masyarakat yang memiliki pandangan dan madzhab yang sama. Yaitu, pengikut madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, alur pikir imam Abu Hasan al-Asy’ari, dan corak tasawuf Imam al-Ghazali dan Imam Abi al-Hasan al-Syadzili (Hasyim Asyari, 1912).
Sebutan “jawa” pada abad ke-17-19 cukup populer di kalangan ulama Timur Tengah dan Afrika. Impelemnetasi dari referensi yang sama melahirkan tradisi dan norma, seperti mencintai keturunan Rasulullah, para wali dan orang saleh; serta mengharap berkah mereka; yang masih hidup maupun yang wafat. Termasuk menghormati dan mencintai habib, sayyid, atau sebutan lain bagi keturunan Rasulullah."
"mengabsahkan" "islam yang tumbuh nusantara" menjadi Theologi Asy'ariyah, madzhab syafi'i dan tasawuf al-Ghazali tidak ada bedanya dengan peristiwa "mihnah" 11 abad yang lalu..
Mihnah, mempertanyakan, menguji, dan menghakimi keyakinan theologis seseorang di muka umum dan menghukumnya jika bertentangan dengan penguasa, atau mayoritas.
Mihnah oleh penguasa, dilakukan oleh penguasa mu'tazilah terhadap ulama-ulama yang tidak mau mengakui bahwa Qur'an adalah Mahluk,
Mihnah oleh penguasa, dilakukan oleh penguasa mu'tazilah terhadap ulama-ulama yang tidak mau mengakui bahwa Qur'an adalah Mahluk,
Nah, Klaim bahwa islam nusantara adalah Asy'ariyah, syafi'i dan al Ghazali, serta melaksanakan selametan atas mayid, ziarah kubur, tahlillan dan lain-lain sebagai indentitas absyah, merupakan Mihnah yang dilakukan oleh "kelompok tertentu" atas kepentingan "ketakutan tradisi keagamaan mereka tergusur" dengan semakin tercerahkannya masyarakat.
Telah banyka yang mengeritik bahwa, Theologi asy'ariyah ikut memberi sumbangan pada kemunduran islam, karena menggiring pengikutunya cenderung kepada sikap pasrah, dekat dengan JABARIYAH, (lihat nurcholish Majid, Islam doktrin dan perdaban).
Fiqih Syafi'i juga tidak bisa dianggap sebagai sumber tunggal kebenaran, demikian dengan al-Ghazali..
Fiqih Syafi'i juga tidak bisa dianggap sebagai sumber tunggal kebenaran, demikian dengan al-Ghazali..
Bagaiaman dengan saya yang tidak mengikat diri dengan theologi Asy'ariyah ? yang tidak mau hanya mengikat diri pada Madzhab Syafi'i, (bahkan tidak jelas Madzhab saya) ?? apa tidak diangap "islam nusantara" ?
dan bagaimana dengan keburukan umat islam di nusantara ? umat islam yang lebih yakin dengan kesaktian batu ponari ketimbang dokter, umat yang gampang di suap pas PILKADA, umat yang para pemimpinnya lebih faham sejarah orang ketimbang sejarah islam ? umat yang pemimpinnya hanya HOBI pencitraan ? Jika citra seperti ini di lihat orang dan mau di "internasionalisasikan", bukan simpati yang datang, malah kita bisa di tertwakan alam semesta,
ISLAM arab ?
Telah melahirkan Thoriq Bin Ziyad,
telah melahirkan Salahuddin Al- Ayyubi pembebas bumi palestina,
ISLAM TURKY ?
telah melahirkan Muhammad al fatih, Penakluk Konstantinopel,
Jadi JANGAN hanya melihat islam arab pada citra Basyar al ashad, ahmadinejad, dan ibnu Su'ud..
Telah melahirkan Thoriq Bin Ziyad,
telah melahirkan Salahuddin Al- Ayyubi pembebas bumi palestina,
ISLAM TURKY ?
telah melahirkan Muhammad al fatih, Penakluk Konstantinopel,
Jadi JANGAN hanya melihat islam arab pada citra Basyar al ashad, ahmadinejad, dan ibnu Su'ud..
CATATAN lain bahwa;
Asy'ariy, Syafi'i dan ghazali, bahkan sebagian Walisongo itu apa dia orang JAWA atau BATAK ?
Sehingga begitu mudahnya kita mengambil posisi berbeda dengan menyebut ada islam arab, ada islam turky dan islam nusantra ?
Asy'ariy, Syafi'i dan ghazali, bahkan sebagian Walisongo itu apa dia orang JAWA atau BATAK ?
Sehingga begitu mudahnya kita mengambil posisi berbeda dengan menyebut ada islam arab, ada islam turky dan islam nusantra ?
Hanya Allah yang Maha tahu

Post a Comment