SUARA PEMBAHARU - Studi wisata aparat-aparat desa di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mulai disorot oleh ketua Laskar Anti Korupsi (LAKI) Boltim dan aktivis. Pasalnya, Lebih dari 100 aparat desa seperti Sangadi, Sekretaris Desa, dan bendahara desa diberangkatkan oleh pemda Boltim ke Bali sejak Minggu (13/9) dan rencananya kegiatan itu berakhir pada hari Jumat (19/9).
Ketua Laki Boltim, Ismail Mokodompit sangat menyayangkan hal itu. Dengan dalih mempelajari sistem pengelolaan keuangan desa Badan Usaha Milik Desa(BUMDes). Pemberangkatan para sangadi dan Sekdes ke Bali dinilai pemborosan keuangan rakyat. Disaat masyarakat di sejumlah desa mulai resah karena kekurangan air bersih. "Akhirnya, banyak orang menilai bahwa ini kepentingan politik jelang Pilkada. Apalagi yang diberangkatkan dari 80 desa ada lebih dari 60 orang hanya PJS Sangadi," tutur Mokodompit saat dijumpai media ini di kediamannya Rabu (16/9).
Mokodompit juga menyoroti program pemda yang setiap tahunnya memberangkatkan Sangadi dan aparat desa lainnya hanya untuk satu agenda yakni belajar pengelolaan keuangan desa "Setiap tahun belajar hal yang sama tapi kualitas pengelolaan keuangan tetap sama. Lebih baik yang diberangkatkan Sekretaris atau bendahara yang menangani hal teknis. Bahkan lebih efektif undang narasumber dari kementerian datang ke Boltim, ketimbang ke Bali lebih baik menyelesaikan temuan inspektorat terhadap pengeloaan desa, menyelesaikan dokumen RPJMdes, RKPdes, APBDes yang tak rampung dan menyusun laporan pengelolaan dana desa tahap satu karena tahap dua sudah siap disalurkan," katanya.
Hal senada juga diungkapkan aktivis Boltim Nugroho Lasabuda. Yang diketahuinya tujuan dari studi wisata itu untuk mempelajari sistim pengelolaan keuangan desa dan penerapan Badan Usahan Milik Desa (BUMdes). Sayangnya, beberapa Sangadi justru membawa serta istri mereka. "Informasinya ada yang bawa istri, ini tidak efektif dan menghabiskan uang rakyat," keluhnya.
Katanya, walaupun keberangkatan istri sangadi tersebut menggunakkan uang pribadi. Namun tak seharusnya memanfaatkan momentum kegiatan yang menggunakkan uang rakyat. "Ini makin jelaslah bukan untuk belajar, tapi untuk wisata," ungkapnya.
Tapi dia berharap sepulangnya dari Bali, para Sangadi mempertanggungjawabkan semua perjalanannya dan mengimplementasikan dalam pengelolaan desa "Jangan sampai tak ada hasil, pulang hanya membawa cerita. Tak ada yang diimplementasikan, padahal setiap tahun diberangkatkan. Tapi saya menilai ini hanya sekadar wisata saja karena Kabupaten tujuan ini saya cari tahu tak ada prestasi pengelolaan dana desa. Kalau objek wisata terkenal seperti Kuta, benar ada," harapnya.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Boltim, Amin Musa mengatakan tujuan mereka ke Bali untuk belajar pengelolaan keuangan desa dan pengelolaan BUMdes Pemkab Bandung.
"Saat ini (kemarin) sedang ada materi oleh Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri dan Pemkab Badung dalam Hotel di Legian (Kuta)," tutupnya. (Dany)
Post a Comment