AHOK memang fenomenal, dengan segala tingkah dan pernyataannya dalam menanggapi berbagai macam kritik, Ahok juga mampu membuat identitas politik sendiri dan berbeda dengan politisi maupun pejabat kebanyakan yang berusaha santun dan kalem.
![]() |
| Razikin Juraid |
Yang paling terkahir, Ahok menuduh Walikota Jakarta Utara Rustam Effendi, adalah bagian dari tim salah satu bakal calon Gubernur hingga berujung pada pengunduran dirinya, dan pernyataan Ahok ketika menanggapi kritikan Amien Rais terhadap kepemimpinannya, Ahok bahkan menyerang balik pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) dengan ungkapan yang merendahkan Amien secara fisik.
"Saya menilai pilihan metafor Ahok dalam merespons berbagai persoalan dan kritikan, bukan menggambarkan Ahok sebagai pemimpin yang tegas, tetapi menggambarkan kualitas personal yang sangat emosional dengan ketidaksiapan mental untuk memimpin Ibu Kota Negara ini dari segala problematikanya," jelas Juraid.
Baca juga : Ahok, Teman Ahok Dan Partai Politik
Baca juga : Ahok Sosok Fenomenal di Antara Kerumitan Jakarta
Baca juga : AHOK, Isue Rasis dan PILGUB DKI Jakarta
Sebagai orang yang sedang menjabat Gubernur DKI, Ahok sebetulnya bisa secara santun menjelaskan keberhasilannya-keberhasilan selama dia memimpin, tidak perlu marah kalau mendapat kritikan.
"Alhasil. tapi harinya, Ahok marah kesemua arah. Saya melihat ini tonggak bunuh diri politik bagi Ahok," ungkap Mahasiswa pasca sarjana UI ini.
Ahok sepertinya perlu banyak belajar pada kualitas komunikasi Soekarno. Ketika dirinya kalah secara politik dengan Syahrir, Soekarno malah mengatakan ini bukan kalah, tapi seperti rotan yang melengkung. Pilihan kosa kata Soekarno terlihat lebih enak didengar dan menginspirasi. Bukan menyerang balik lawan politiknya dengan kata-kata bajingan, pikun, nenek elu dan lain-lain.

Post a Comment