![]() |
| Aliansi Makapetor saat melakukan aksi di depan kantor Walikota Manado, Senin (15/6) |
GERAK langkah
dan aksi, Aliansi Masyarakat Kawanua Peduli Toleransi (Aliansi Makapetor) mulai
jadi sorotan. Pasca aksi damai yang berujung tindakan anarkis di kantor DPRD
Manado, Senin (15/6), publik kemudian patut mempertanyakan kembali pesan yang
ingin disampaikan aliansi ini.
Semangat toleransi warga kawanua, yang menjadi arah dan simbol gerakan Aliansi Makapetor, untuk menyikapi penggunaan lahan Ex. Texas Kelurahan Pinaesaan Kecamatan Wenang Kota Manado, dapat berubah sebagai pisau ancaman keamanan atas nama toleransi.
Aliansi
Makapetor dalam bingkai Ke Minahasa an
Aliansi Makapetor sendiri adalah gabungan Ormas/LSM Adat
Minahasa dan simpatisan, spanduk yang dibawa saat aksi pun bertuliskan ‘Tou
Minahasa Menggugat’.
Tapi benarkah Tou Minahasa menjadi legal gerakan Makapetor ? dan apakah legitimasi gerakan tersebut benar berasal dari semangat Minahasa ?. Sepertinya hal ini harus dijawab para tokoh Minahasa, karena klaim Minahasa tersebut, gerakan ini menjadi begitu besar dan kuat.
Apakah Demi
Agama Atau Toleransi Gerak Makapetor ?
Agama apapun membawa pesan kedamaian untuk umatnya, tak ada ajaran yang melegalkan tindak kekerasan. Tapi tak bisa dipungkiri, sebagian publik mulai mengaitkan gerakan Aliansi Makapetor dengan pesan keagamaan, ketidaksukaan atas berdirinya masjid Al Khairiyah di lahan tersebut, apalagi berusaha menambah area ibadah bagi umat muslim.
Jika opini tersebut yang kemudian tercipta oleh publik, tentunya tidak bisa dibenarkan. Karena dari sekian banyak masjid yang telah berdiri di bumi nyiur melambai, mangapa hanya masjid Al Khairiyah yang menjadi sasaran atas gerak aliansi ini ?. di Minahasa pun tidak sedikit Masjid yang telah berdiri, bahkan ada kampung Islam dan Jawa Tondano yang mayoritasnya umat muslim di daerah tersebut. lagipula tidak ada alasan bagi publik, jika mengisyaratkan pesan Aliansi Makapetor dengan ketidaksukaan berdirinya Masjid Al Khairiyah. Karena alasannya, terlihat subjektif dan harus diingat warga Indonesia adalah warga dengan dasar Agama.
Pesan Toleransi juga, menjadi tanda tanya dari aksi yang telah beberapa kali dilakukan Aliansi Makapetor. Tuntutan berdirinya wisata religi di lahan ex Kampung Texas, membawa pesan semangat toleransi umat beragama di Manado. Wisata religi yang nantinya dibangun miniatur semua rumah ibadah, menjadi simbol kerukunan umat beragama, kuatnya persaudaraan juga beragamnya keberagaman umat di Manado.
Aksi yang dilakukan, Senin (15/6) bahkan sempat mengancam, jika tuntutan tidak dipenuhi, maka akan turun ke lokasi yang menjadi titik permasalahan dan akan melakukan pembongkaran.
“kami sudah menempuh sesuai prosedur, sudah dua kali aspirasi kami tak digubris. Jadi hari ini, kami minta penegasan Pemkot Manado, jika tidak, jangan salahkan kami melakukan tindakan anarkis di lahan kampung texas tersebut” tandas korlap Makapetor dengan yel-yel I Yayat U Santi sambil meninggalkan kantor walikota menuju Kantor DPRD Kota Manado.
Kantor DPRD Manado pun harus menjadi sasaran empuk amukan aliansi Makapetor, karena massa aksi berontak hingga menghancurkan, kursi, meja dan AC ruang sidang paripurna.
Benarkah pesan toleransi, yang menjadi semangat Aliansi Makaptetor ?. Tidak juga bisa dibenarkan jika pesan ini yang dimaksud, sementara disatu sisi gerakannya tidak mentolerir umat lainnya untuk beribadah secara baik, apalagi gerakannya sampai menyentuh tindakan anarkis.
Jika benar gerakan Aliansi Makapetor tidak membawa pesan Agama dan Toleransi, terus pesan apakah yang ingin disampaikan dari gerakan ini?
Kemana
Pemimpin Dan Lembaga Kerukunan Agama ?
Jika telah seperti ini, apa langkah pemimpin daerah ini? Apa solusi dari polemik tersebut? Ataukah pemimpin kita tak lagi punya kuasa hingga tak mampu menyelesaikan problematika ini?
Kemana juga lembaga kerukunan umat beragama dan para tokohnya, tak mampukah mereka memberi pencerahan kepada umatnya? Mengajarkan kepada kebaikan dan hidup rukun dan damai.
Semoga Gerakan
Ini Bukan Kepentingan Sepihak
Kita bersama tak pernah membayangkan dan menginginkan pertumpahan darah, bermusuhan hingga menjadikan Manado bagian dari daerah kerusuhan. Telah cukup lama kita bersama dengan semangat persaudaraan. ‘Torang Samua Basodara’, ‘Kota Tinutuan’, ‘Si Tou Timou Tou’ bukan sekedar slogan daerah ini, tapi telah menjadi karakter warga kawanua.
Semoga saja polemik ini tidak di tunggangi kepentingan kelompok, golongan maupun pribadi. Dan para pemimpin, tokoh agama, tokoh adat dan seluruh steakholder berinisiasi mencari jalan terbaik untuk rakyatnya.
Tak Ada Kedamaian Yang Lahir Dari Sebuah Pertikaian
Penulis; Sahrul Setiawan (Wartawan suarapembaharu.com)


Post a Comment