![]() |
| Ferry Daud Liando |
SUARA
PEMBAHARU – Reshuffle Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK, Rabu (12/8) dinilai
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)
berdasarkan kompromi politik.
“Reshuffle Menteri yang dilakukan Jokowi bakalan tidak akan
memberikan dampak luar biasa. Hal itu disebabkan, reshuffle lebih
mempertimbangkan kompromi politik ketimbang memperbaiki kinerja kementrian.
Kompromi politik tampak pada penambahan kader PDIP di kabinet,” ucap pengamat
politik Unsrat ini.
Liando juga menilai, Jokowi sebagai Presiden ‘kalah’ dengan
desakan petinggi PDIP, karena komposisi Kabinet Jokowi saat reshuffle
memberikan pemetaan terhadap posisi PDIP dan Nasdem yang sebelumnya fokus
memperjuangkan Jokowi disaat Pilpres kemarin.
“Jokowi akhirnya kalah dari desakan PDIP yang terus menuntut
agar PDIP diberikan tambahan jatah menteri. PDIP sering protes, bahwa PDIP dan
Nasdem sebelumnya memiliki kader di Kabinet yang jumlahnya sama yakni 4 orang.
Padahal PDIP adalah pemenang pemilu dan pengusung Jokowi sebagai Presiden,
sementara Nasdem peraih suara kecil dan hanya pendukung Jokowi sebagai calon
Presiden,” jelas akademisi Unsrat Manado ini.
Liando sampai menyentil permintaan PDIP untuk menambahkan satu
kader di kabinet terwujud dan partai Nasdem berkurang satu. Kompromi politik
yang kedua adalah penempatan Sofjan
Djalil sebagai menteri perencanaan Nasional dan kepala Bappenas.
“Harusnya yang bertanggung atas kegagalan tim ekonomi dalam
kabinet adalah Sofjan Djalil. Tapi ironisnya, tim ekonomi lain di ganti tapi
yang bersangkutan tidak diganti, malah mendapat jabatan strategis yaitu Menteri
perencanaan dan kepala Bappenas,” ungkapnya.
Sofyan Djalil tetap bertahan kemungkinan hasil kompromi
politik dengan Jusuf kalah, karena Sofyan Djalil adalah kerabat dekat Jusuf
kalah. Ketiga, penempatan Luhut Panjaitan
sebagai menkopolhukam merupakan sebuah kompromi balas jasa politik, sebab Luhut
mantan tim sukses Jokowi.
“Jika kompromi politik lebih dominan ketimbang memperbaiki
kinerja kementerian maka saya sangsi apakah perombakan ini bisa berhasil,” tegas
Liando. (MO3)

Post a Comment