SUARA PEMBAHARU — Bantuan 48 ton bibit jagung dengan total anggaran Rp. 3,6 Miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), untuk 164 kelompok petani yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), ternyata tidak tersalurkan ke semua kelompok tani yang ada.
Dengan kabar ini, Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan (Pertanak) Kabupaten Boltim, Ramlah Mokodompis akan mengkroscek kembali ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di masing-masing Kecamatan, khususnya di Kecamatan Kotabunan.
"Nanti saya akan kroscek, karena seingat saya kelompok tani di Buyat, itu diserahkan secara simbolis sehabis lebaran Idhul Fitri, yakni acara halal bihalal di Kotabunan, sekitar Bulan September. waktu itu Bipati Sehan Landjar yang serahkan ke para penyuluh," katanya.
Untuk penyuluh pertanian, katanya, di Kecamatan Kotabunan itu Rudi, namun sekarang sudah di ganti. Jadi yang kawal kegiatan di lapangan itu penyuluh, karena dianggap lebih tahu mana yang kelompok taninya.
"Simbolis yang diserahkan Bupati pada saat itu diberikan ke penyuluh, nanti merekalah yang akan melanjutkan menyalurkan ke pada kelompok-kelompok tani di kecamatannya," ujar Ramlah saat dikonfirmasi media, Senin (21/12).
Memang, lanjutnya, pada saat itu saya pernah menganjurkan kepada para penyuluh boleh langsung dibagikan, namun sampaikan juga ke para petani agar jangan dulu ditanam.
"Mengingat musim panas yang berkepanjangan pada tahun ini. Kan sayang anggaran besar, namun malah merugi," katanya.
Jadi, tambahnya, yang kawal kegiatan pertanian di lapangan itu penyuluh, karena mereka yang dianggap tahu siapa-siapa saja kelompok tani yang ada di wilayah mereka.
Masalah bibit jagung yang tidak terbagi ke semua kelompok tani di boltim ini, terkuak ketika ketidak sengajaan media ini bersua dengan Debi Potabuga yang merupakan salah satu anggota kelompok tani Bakan, yang ada di Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan.
Menurut penuturan Debi, sejumlah kelompok tani yang lain, bantuan bibit jagungnya sudah diserahkan, namun kelompok taninya sampai sekarang ini belum juga menerima bantuan tersebut.
"Saya dengar kabar, kalau bantuan kami masih tertahan sama penyuluh yang bernama Rudi. Jangan-jangan sudah dijual sebagian, makanya punya kami tidak dibagi. Jadi tolong Kadis Tarnak untuk turun di lapangan terkait bantuan ini," kata Debi. (Dany)

Post a Comment