SUARA PEMBAHARU - Rieke Diah Pitaloka, salah satu anggota DPR RI yang terus merasa nyeri dan tersayat hatinya melihat kondisi masyarakat, melihat kemiskinan, penderitaan rakyat yang terhimpit diantara kawasan-kawasan Industri.
Berikut curahan hatinya, pasca melakukan reses 3 April 2016.
Kawan-kawan seperjuangan,
Sungguh tak akan mudah hari-hari ke depan bagi kita yang memilih jalan perjuangan ini.
Hari ini (3/42016) aku selesai lakukan kewajiban reses, dan masih tergores rasa nyeri saat pertemuan bersama rakyat. Meski aku coba untuk membuat gurauan agar mereka terhibur.
Kemiskinan, penderitaan, rakyat yang papah, yang terjepit di antara kawasan-kawasan industri. Hidup sebagai limbah tak berharga.
Dibalik pabrik-pabrik besar, di belakang perumahan mewah para ekspatriat, berjejal rakyat hidup di rumah-rumah kumuh. Kontrakan-kontrakan sumpek, perumahan-perumahan super sederhana dengan jalan rusak dan got mampet karena pengembangnya entah kemana.
Inikah tujuan industrialisasi, inikah maksud investasi modal-modal raksasa itu? Inikah hidup dari sebuah bangsa yang merdeka?
Tadi di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, seorang perempuan muda menunjukkan benjolan tumor di perutnya. Matanya berkaca-kaca, suaranya parau. Bermimpi bisa berobat saja tidak berani. Aku memeluknya sambil memberi canda yang membuatnya tersenyum.
Tuhan, sesungguhnya aku ingin memeluknya sambil menangis. Aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa menolongnya. Semoga saja bisa, ayo, Amin, Mas Wid, Mas Kris, Adi, kalian tim yang luar biasa. Kita pasti bisa membantunya.
Tapi ada kabar baik juga, kunjungan titik pertama di Desa Belendungan, Kabupaten Karawang. Aku bertemu lagi dengan Pak Akim, ternyata dia RW di desa itu. Yang aku ingat, hampir dua tahun lalu, dia mengejar-ngejar aku. Tangisnya menahan mobilku. Anak gadisnya sudah enam tahun di Saudi, jadi TKW tak ada kabar,
"Tolong, Bu, saya ingin anak saya pulang.". Alhamdulillah, kita bisa perjuangkan bersama, anak perempuan itu hadir di pertemuan tadi siang. Dia pulang dalam keadaan selamat.
Aku katakan padanya, "tidak usah ke Arab lagi, sudah di sini saja."
Anak itu menjawab, "iya, Bu, saya ngga mau ke Arab lagi." Tetapi disatu sisi hatiku juga bertanya pada diriku sendiri, "lalu mau kerja apa di sini."
Jalanan rusak membelah hamparan sawah. Petani mengeluh padaku, harga gabah jatuh. Desa Belendungan, desa yang subur, ada sawah yang menghampar, ada pabrik-pabrik besar, tapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan, perempuan-perempuan dari Desa Belendungan terpaksa mengadu nasib jadi TKW.
Ini kisah hari ini yang sengaja kuceritakan pada kalian. Agar kalian berbangga hati, masih diberi kesempatan untuk bisa berjuang bagi orang lain, buat mereka yang hidupnya jauh lebih sulit dari kita.
Tetap bersama, ikatkan hati dan jiwamu dengan tali persaudaraan. Kita sedang membangun gerbong yang mengangkut segelintir anak-anak muda negeri, yang masih punya nyali untuk goreskan sejarah perubahan.
Katakan pada diri kita malam ini, kita tidak akan menyerah. Ini pilihan kita, tak pantas rakyat di Republik ini hidup melarat. Soalnya hanya apa yang menjadi hak rakyat tak ada yang sungguh perjuangkan agar bisa terpenuhi. Itu saja perkaranya. Hanya butuh kekerasan hati untuk memperjuangkannya, itu saja modalnya. Sisanya, biar Tuhan yang putuskan. Tugas kita berjuang saja dengan suka cita.
Dalam doa malammu hari ini, aku titip doakan juga rakyat yang lain, dan aku tentu saja, selalu ada kalian dalam setiap doaku:
Ya Allah, kuatkan,
tegarkan kawan-kawan seperjuanganku.
Mudahkan jalan perjuangan ini.
Tunjukkan yang benar itu benar dan beri kami kekuatan untuk tak letih perjuangkan kebenaran.
Tunjukkan yang dzolim itu dzolim dan beri kami kekuatan untuk tak surut melawan kedzoliman.
Selamat istirahat semua
Aku memeluk kalian dengan jiwa yang menyala, yang akan membangunkanmu esok dengan semangat perlawanan.
Persiapkan sebaik-baiknya untuk pertemuan Surabaya dan Bandung. Tak sabar untuk bertemu kalian. Berjanjilah, kita berjuang dengan suka cita, karena kita manusia-manusia yang beruntung, beruntung masih diberi kesempatan untuk berjuang!
Depok, 030416 22.56
A luta continua
RDP

Post a Comment