Suara Pembaharu ideas 2018
Showing posts with label Story. Show all posts

suarapembaharu.com - Joey Alexander, menjadi salah satu dari anak Indonesia yang mampu menggeparkan dunia, lewat talentanya dibidang seni. Joey anak berumur 12 Tahun ini pun tercatat menjadi pianis jazz termuda dan pianis pertama asal Indonesia yang masuk nominasi Grammy Awards. Tidak main-main, pianis muda ini meraih dua nominasi Grammy Awards ke-58 tahun 2016, pada kategori Best Jazz Instrumental Album untuk albumnya yang bertajuk My Favorite Things. Dan kategori Best Improvised Jazz Solo untuk nomor 'Giant Steps' yang juga diambil dari album yang sama.
Joey Alexander (Istimewa)
Joey yang lahir dan besar di Denpasar, Bali, sudah menunjukkan bakat musiknya sejak berumur 6,5 tahun. Ketertarikan Joey dalam musik jazz dan piano berkat Ayahnya, Denny Sila, yang selalu mengenalkannya mahakarya-mahakarya jazz, membelikan keyboard mungil merek Casio bagi Joey hingga memberi contoh cara bermain keyboard walau keahlian Denny dalam bermain piano tidak begitu jago.

Setelah lancar, Joey kemudian meminta ayahnya menyingkir dari kursi keyboard dan dengan kemampuan Joey memainkan lagu Thelonius Monk, Well You Needn’t, membuat Denny dan Farra takjub hingga keduanya memutuskan untuk mendaftarkan Joey ke sekolah musik Purwacaraka dan berlanjut ke sekolah musik klasik Farabi di Jakarta.

Guru les Joey yang melihat bakat hebat anak ini langsung terpesona, karena jika siswa lain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk ­mempelajari satu, Joey menguasainya hanya dalam tiga pekan. Bahkan beberapa lagu tertentu bisa dipelajari Joey dalam waktu tiga hari.

Walau sempat mengikuti les piano klasik, Joey kemudian tidak melanjutkannya karena terlanjur mencintai musik jazz, yang baginya memberikan kebebasan, spontanitas, dan ekspresi. Sejak berusia 7 tahun, Joey tak lagi mengambil kursus musik klasik karena menurutnya teralu terpaku pada partitur dan terus menekuni musik jazz. Joey pun lebih suka belajar otodidak.

Di usia 8 tahun, Joey mendapat undangan dari pusat kebudayaan Amerika untuk bermain di depan ikon jazz Herbie Hancock, yang saat itu sedang bertandang ke Jakarta. Di hadapan Hancock, Joey pun membawakan Watermelon Man ciptaan Hancock yang membuat Hancock terpana dengan kemampuan Joey.

Dalam kesempatan itu, Hancock mengatakan bahwa ia percaya dengan kemampuan Joey dan penyampaiannya pesan tersebut yang memicu Joey untuk memutuskan mendedikasikan hidupnya untuk jazz hingga karier Joey pun terus melesat.

Di tahun 2014, Joey dan keluarga harus tinggal di Amerika Serikat dan Pemerintah Amerika Serikat memberi keluarga Joey visa tinggal bagi individu berkemampuan istimewa.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Dulu, BJ Habibie menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini, termasuk NASA di Amerika. Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset Ph.D-nya, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember 2005.
Yogi Ahmad Erlangga
Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak satu abad silam.

Media Barat menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia adalah pria kelahiran Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), dan saat itu sedang menempuh program Ph.D di Delft University of Technology (DUT).

Keberhasilan itu memuluskan jalan bagi perusahaan perminyakan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya lebih rendah. Selama ini, industri perminyakan sangat membutuhkan pemecahan rumus Helmholtz itu agar bisa lebih cepat dan efisien dalam melakukan pencarian minyak bumi.

Setelah Yogi memecahkan persamaan Helmholtz yang selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Tak cuma itu, dari kebutuhan hardware-pun, industri minyak bisa mereduksi sekitar 60 persen dari hardwareyang biasanya. Sebagai contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000 komputer, dengan dipecahkannya rumus Helmholtz oleh Yogi, bisa diselesaikan hanya dengan 300 komputer.

Yogi mengungkapkan, penelitian mengenai persamaan Helmholtz ini dimulai pada Desember 2001 silam dengan mengajukan diri untuk melakukan riset di DUT. Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell datang ke DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara matematika numerik yang cepat atau disebut robust (bisa dipakai di semua masalah).

Selama ini, ungkap Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus Helmholtz dalam menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz yang digunakan oleh perusahaan minyak Belanda itu membutuhkan biaya tinggi, tak cuma dari perhitungan waktu tetapi juga penggunaan komputer serta memori.

"Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali. Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware," ungkap Yogi.

Karena itu, sambung pria yang lulus dengan nilai cum laude saat menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan penelitian yang mengarah pada persamaan Helmholtz agar bisa lebih efisien, cepat, dan kebutuhan hardware yang cukup kecil.

Untuk proyek penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian Belanda.

Yogi yang memiliki hobi memasak, melukis, dan olah raga itu, memecahkan rumus Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang membuat penelitian itu lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz dalam matematika numerik, yaitu matematika yang bisa diolah dengan menggunakan komputer.

Karena itu, dalam melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan yang masing-masing tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik yaitu secara langsung (direct) dan iterasi.

"Banyak pakar yang menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang sulit," kata pria kelahiran Tasikmalaya ini.

Pakar terakhir yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan Prof Turkel, berasal dari Swiss dan Israel, masing-masing dengan caranya sendiri. Teori dari kedua pakar itulah yang kemudian dianalisisnya beberapa waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan dijadikan metode yang cukup cepat.

"Saya punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya pecahkan dengan metode direct atau iterasi," ujarnya.

Metode langsung, papar Yogi, bila dalam perjalanannya kemudian menemukan masalah yang besar maka akan mahal dari segi waktu dan biaya. Namun metode iterasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata dia, yang pasti, dengan metode iterasi selalu murah dari segi hardware.

"Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan iterasi, tapi kalau dinaikkan frekuensinya, jadi sulit untuk dipecahkan," ujarnya.

Yogi memaparkan, untuk mengetahui struktur daerah cekung, misalnya, yang dilakukan adalah meneliti daerah akustik dan kemudian dipantulkan gelombangnya dengan frekuensi tertentu.

Pantulan tersebut kemudian direkam. Setelah itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz, lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.

Yang kemudian menjadi persoalan, ungkap dia, ketika frekuensi dinaikkan, persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan. Ia memberikan contoh, Shell hanya bisa menyelesaikan persamaan Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz.

"Ketika dinaikkan menjadi 30 Hz, mereka tak bisa," katanya.

Kemudian, Yogi memperoleh metode robust yang memungkinkan persamaan Helmholtz untuk dipecahkan dengan frekuensi berapa pun.

"Kita sudah melakukan tes 300 Hz tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun sudah cukup untuk pemetaan," ujar penggemar matematika ini.

Tak Cuma Untuk Temukan Sumber Minyak

Menurut Yogi, selain untuk menemukan sumber minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan gelombang. Persamaan ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku gelombang secara umum.

Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data dalam blue ray disc (keping DVD super yang bisa memuat puluhan gigabyte data), dan aplikasi pada laser.

Mengenai kelanjutan dari penemuannya itu, Yogi mengatakan, karena penelitian ini dilakukan oleh perguruan tinggi, maka persamaan Helmholtz ini menjadi milik publik.

"Biarpun dibiayai oleh Shell, tapi yang melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik publik," katanya.

Ia tidak mematenkan rumus temuannya itu. Apalagi, sambung dia, produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan.

"PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari minyak bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu, tapi karena ada keperluan, tidak hadir. Memang ada yang mengatakan kalau PT Pertamina tertarik dengan temuan saya, cuma masalahnya Pertamina memiliki software-nya atau tidak," ujar pria yang tak suka publikasi ini.

Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah dipresentasikan di banyak negara di dunia, yaitu saat intermediate progress selama Desember 2001 hingga Desember 2005. Buku mengenai persamaan Helmholtz yang dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris manis.

"Tinggal satu (buku) dan saya tak punya fotokopinya lagi," ujar dosen yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel.

Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu masih bisa dikembangkan lagi. Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi pada postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu selama dua tahun sejak 1 Mei 2006.

Terobsesi Memajukan Indonesia

Setelah menjadi terkenal di dunia matematika karena berhasil memecahkan rumus Helmholtz yang dikenal sangat sulit, dosen Teknik Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum tercapai.

Menurut anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad Isis dan Euis Aryati ini, obsesi yang belum tercapai adalah ingin melihat bangsa Indonesia maju.

Karena, kata dia, saat ini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan India. Padahal, Indonesia dan India sama-sama sebagai negara berkembang dan banyak masyarakatnya yang miskin.

"Meskipun miskin, tapi India sekarang bisa menjadi pusat informasi teknologi (IT) di dunia. Saya ingin Indonesia seperti India, kemiskinan bukan berarti tidak bisa berkembang," ujar Yogi.

Khusus untuk ITB, sambung pria kalem kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.

Minimal, ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau hanya terbesar di Indonesia saja, sejak dulu juga begitu. Bahkan, sambung dia, pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar.

"Saya pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin melakukan penelitian tentang pesawat terbang, perminyakan, dan biomekanik," kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch Chamber of Commerce itu.

Tulisan ini diolah dari beberapa sumber.

Michael Jordan, dikenal sebagai pemain basket terbaik sepanjang masa dan legenda hidup NBA yang terkenal dengan akurasi lemparan dan gaya slamdunk-nya yang seolah berjalan di udara ini tidak dengan mudah mencapai keberhasilannya. Mike sapaan akrab Michael Jordan bahkan harus berjuang keras untuk sampai dititik puncaknya karena diawal karirnya Ia terkendala dengan tinggi badan yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi salah satu anggota tim basket dikampusnya. Mahasiswa lain yang setingkat dengannya, Leroy Smith, malah berhasil diterima dalam tim kampus.
Michael Jordan
Michael kemudian merasa marah sekaligus dipermalukan, tapi energi emosionalnya itu ia curahkan dan gunakan untuk menjadikan dirinya seorang pemain yang jauh lebih baik.

"Setiap kali berlatih dan merasa lelah, niat untuk menyerah mulai timbul. Saya kemudian akan menutup mata dan membayangkan daftar nama pemain di kamar ganti tanpa nama saya tertera di sana. Dan biasanya hal itu akan membuat saya bangkit kembali," kata Jordan.

Mike pun terus berlatih sendiri hingga tinggi badannya mencukupi. Meski masih dianggap kurang ideal, tapi dirinya mampu mencetak skor meyakinkan sehingga akhirnya jadi pilihan utama.

"Saya dapat menerima kegagalan, tapi saya tidak dapat menerima jika saya belum mencoba," sebut Jordan mengungkap rahasia suksesnya.

Mike akhirnya baru berhasil menjadi anggota tim kampus dua tahun kemudian, dan memperoleh beasiswa ke University of North Carolina, lalu direkrut Chicago Bulls. Setidaknya, enam kali ia merebut kejuaraan NBA bersama klub Chicago Bulls (1991-1993, 1996-1998) dan merebut gelar pemain terbaik. Tapi ada juga tantangan dan halangannya selanjutnya ketika Mike mulai masuk tim profesional NBA. Karena memiliki prestasi cemerlang, Mike malah sempat dikucilkan oleh pemain senior.

"Saat kita ingin mencapai sesuatu, pasti akan ada halangan. Saya juga menjumpainya seperti juga orang lain. Tapi, seharusnya itu tak perlu menghentikan kita. Seperti saat mendapati tembok, jangan berpikir menyerah, tapi coba lompati dan lewati," ungkap Jordan.

Kini nomor kaosnya, 23 hingga kini juga digantung di hall of fame sebagai bentuk penghargaan atas prestasinya. Mike kemudian pensiun dari dunia basket pada tahun 2003 setelah dua tahun bergabung dengan klub Washington Wizards dan lebih memilih sibuk dalam dunia bisnis. Ia memiliki karir professional yang sangat cemerlang di lapangan basket.

Dengan keyakinan inilah, Jordan mampu mengubah tantangan itu sebagai batu loncatan mencapai sukses yang lebih maksimal. Michael Jordan pernah mengalami kegagalan demi kegagalan, ia juga tidak hanya berlatih sekali dua kali, tetapi berkali-kali sehingga bisa menjadi ikon basket seperti saat ini. Ia jadikan setiap rintangan dan tantangan hal yang harus dihadapi dan dilewati.

Jangan membandingkan diri Anda dengan siapa pun di dunia ini; jika Anda melakukannya, Anda menghina diri sendiri. (Bill Gates)
Bill Gates yang merupakan salah satu nama paling terkenal di jagat teknologi dan pendiri Microsoft yang menjelma sebagai perusahaan software terbesar di dunia ini, sering dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Padahal sebelum mencapai puncaknya, Gates harus memutuskan drop out (DO) dari Universitas Harvard demi mengembangkan Microsoft yang akhirnya berjaya sebagai produsen software terbesar di dunia itu.

Bill Gates
Memiliki nama seperti ayahnya, William Henry "Bill" Gates II, Bill Gates tumbuh besar sebagai anak yang cerdas, tetapi terlalu penuh semangat dan cenderung sering mengalami kesulitan di sekolah. Sejak usia muda atau sekitar 10 tahun, Gates menurut penuturan ayahnya sudah sangat suka belajar. Bahkan Gates sudah tamat membaca World Book Encylopedia dari seri awal sampai akhir.

"Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil dan saya pikir hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca," kata Gates suatu ketika.

Orang tuanya pun sangat mendukung hobi yang bagus tersebut. Mereka selalu membelikan buku apapun yang diminta oleh anaknya. Pada usia 11 tahun, Gates sudah aktif bertanya pada ayah soal topik bisnis sampai peristiwa dunia.

"Sungguh menarik dan saya pikir itu adalah hal yang hebat. Namun ibunya tidak menyukai kebiasannya itu," kenang Gates senior.

Melihat kebiasan membacanya yang tinggi, sang ibu mulai khawatir karena Gates mulai cenderung hanya suka berkutat dengan buku ketimbang berhubungan dengan orang lain. Gates pun mulai sering bertengkar dengan ibu yang berupaya mengontrolnya 08Ayah dan ibu Gates mulai khawatir karena anaknya terlihat cepat bosan. Ia memang anak yang pandai dan mampu menyerap semua pelajaran dengan baik.

Pada umur 13 tahun, Bill menuntut ilmu di sekolah eksklusif, Lakeside School dan dikenal sebagai siswa yang sangat pandai di sana. Lakeside School adalah sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki. dan disekolah inilah Bill Gates untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan dunia komputer, dalam bentuk mesin teletype yang dihubungkan dengan telepon ke sebuah komputer pembagian waktu.

Gates pun dengan cepat menguasai BASIC, sebuah bahasa pemograman komputer, dan bersama para hacker lainnya belajar sendiri di Lakeside. Gates bahkan melewatkan waktu ber-jam-jam untuk menulis program, melakukan permainan, dan secara umum mempelajari banyak hal tentang komputer.

Selepas itu, Bill Gates kemudian kuliah di Harvard University di Cambridge tahun 1975. Di kampus itu, Gates kemudian bertemu Paul Allen dan secara mereka pun terus mengembangkan talentanya di bidang pemograman komputer. Namun, Bill Gates akhirnya memutuskan drop out dari kuliahnya untuk menyumbangkan waktunya ke Microsoft. Dan dengan berat hati, orang tuanya pun mendukung keputusannya tersebut.

"Mary dan aku sangat cemas tentang itu. Harapannya dan aku sebenarnya sama dengan orang-orang yang punya anak di universitas, yaitu agar dia wisuda," kata Gates senior.

Namun Gates juga pernah menyatakan penyesalan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Bahkan Gates meminta agar para mahasiswa tidak mengikuti jejaknya.

"Saya kira drop out kuliah bukan ide yang bagus. Saya senang bisa menempuh kuliah meski hanya dua setengah tahun. Saya melengkapi beberapa kuliah dengan kursus online," kata Gates dalam sebuah pidato di Universitas Chicago.

Pilihan Bill Gates untuk drop out memang tepat baginya. Ia fokus mengembangkan Microsoft yang kemudian berjaya sebagai produsen software komputer terbesar di dunia.

Sistem operasi Windows sampai sekarang masih sangat dominan dipakai di mayoritas komputer. Dan belum ada pesaing yang cukup berarti. Bill pun kerap dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Harta kekayaannya diestimasi USD 61 miliar.

"Saya mengambil langkah raksasa dan segera. Jika Anda berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki visi ke mana teknologi baru akan menuju namun Anda tidak beraksi, Anda tidak akan pernah bisa sukses," katanya mengenai resep suksesnya.

Saat ini, Bill Gates memang sudah pensiun dalam mengurusi Microsoft. Dia memilih fokus pada urusan kemanusiaan di yayasan Bill & Melinda Gates Foundation.

Sampai tahun 2007, total sumbangan yang diberikan Bill & Melinda Gates Foundation telah mencapai USD 28 miliar. Yayasan ini dianggap salah satu yang paling banyak menyumbangkan uang untuk kegiatan kemanusiaan.

Bill Gates sendiri dilaporkan telah memberikan persentase besar dari hartanya untuk aktivitas filantropi, sebesar 48%. Dia bergabung dengan dermawan kaya lain yang juga punya jejak sama, seperti Andrew Carnegie.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber.


Judul Buku : Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan

Penulis : Ajip Rosidi

Kategori Buku : Otobiografi

Penerbit : Pustaka Jaya

Harga : Rp. 300.000,- (Harga Normal), Rp. 98.000,- (Harga Subsidi)

Tebal :1330 Halaman

Cetakan: Januari 2008

Buku terbitan Pustaka Jaya ini, merupakan Otobiografi dari Ajip Rosidi tentang kenangan 70 tahun perjalanan hidupnya. Buku yang cukup tebal, namun memiliki tingkat bahasa yang sangat mudah dipahami. Seluruh bukunya ditulis dengan gaya polos dan seadanya tanpa ada usaha pencitraan untuk dirinya sendiri.

Tokoh Inspiratif dari tataran sunda ini memang sangat luar biasa. Lahir di Jatiwangi, Majalengka – Jawa Barat, 31 Januari 1938 merupakan seorang budayawan, penulis sastrawan, dosen dan redaktur beberapa penerbit. Namanya selalu disandingkan dengan banyak sekali sastrawan kelas atas di Indonesia, seperti Taufik Ismail, W.S Rendra, atau Sutan Takdir Alisyahbana. Sampai saat ini telah lebih dari 110 judul, baik kumpulan cerita pendek, kumpulan sajak, roman, drama dan kritik asli tulisannya sendiri telah beliau bukukan. Selain itu, 326 judul karyanya telah dimuat dalam 22 majalah.

Menempuh pendidikan terakhir di Taman Siswa Jakarta 1956, dengan status tidak tamat, justru membuat tokoh ini semakin melejit dalam dunia sastra. Berawal ketika ujian nasional sekolah menengah ditahun 1956 yang dikabarkan sering mengalami kebocoran soal. Banyak orang pada saat itu menyogok guru sekolah atau yang memperoleh soal ujian sebelum waktu ujian tiba. Dari hal itulah, idealisme kuat Ajip Rosidi muncul. Dia memilih untuk tidak mengikuti ujian sekolah menengah. Baginya hidup tidak harus digantungkan pada secarik kertas bernama ijazah yang memupuk seseorang menjadi mental pekerja.

Keyakinan itu menjadi nyata. Bintang terangnya telah muncul semenjak dia remaja. Buku pertamanya yang berjudul tahun-tahun kematian (kumpulan cerita pendek) terbit sejak dia berumur 17 tahun. Mempelajari sastra secara otodidak menjadikannya lebih terpacu. Sekarang dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, (3 tahun setelah buku otobiografi ini terbit), Ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Sumber Wikipedia).

Didalam buku ini dibahas, tentang bagaimana sudut pandang Ajip Rosidi terhadap agama. Ajip muda mengaku sempat menjadi atheis. Dia sempat ragu tentang agama. Sampai dia melakukan berbagai pencarian untuk menghilangkan rasa hausnya terhadap agama. Dimulai dari jalur kebathinan, membedah karya-karya religi dari Haji Hasan Mustapa, sampai membedah buku-buku tauhid dan mendalami ilmunya kepada guru-guru. Sehingga dia menemukan dan merasakan agama Islam sebagai jalan satu-satunya.

Didalam buku tebal ini, dijabarkan juga pembahasan cukup panjang mengenai pergerakan Lekra, yakni organisasi kebudayaan yang menjadi corong PKI. Diceritakan juga, dulu Sahabat dekat Ajip Rosidi berada di kubu-kubu yang bisa dikatakan besebrangan dalam hal ideologi. Katakanlah dari kubu kiri yakni Sitor Situmorang, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani. Dari kubu sebelahnya seperti Taufik Ismail, Umar Ismail, H.B. Jassin. Pada saat itu, cukup terjadi suasana panas antar mereka.

Kedua kelompok tentu saja menyebut diri pancasialis sejati dan revolusioner. Kedekatan dengan Bung Karno juga diperebutkan. Kaum kiri menyebut dirinya pendukung setia Bung Karno dan menuduh kaum kanan anti-Bung Karno. Demikian Pula sebaliknya.

Puncak pertarungan disulut oleh pidato Soekarno yang diberi judul Manifesto Politik. Kaum kiri segera menyebut diri mereka Manipolis sejati sedangkan kaum kanan menyebut anti-manipol, tak lama kemudian lalu mereka mengeluarkan pernyataan politik kebudayaan yang disebut manifes kebudayaan.

Ajip Rosidi jelas sekali menentang pemikiran dari PKI, namun tak membuat dirinya menjadi musuh dari lawan ideologi yang merupakan masih sahabatnya. Bahkan saking dekatnya itu, terutama dengan Sitor Situmorang dan Utuy T. Sontani, Ajip sering dituduh bahwa Dia merupakan bagian dari orang-orang kiri.

Selain daripada itu, Ajip juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan beberapa tokoh politik pada zaman itu, sebut saja mantan wapres Adam Malik, Mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin atau Sjafrudin Prawiranegara. Bahkan oleh Sjafrudin Prawiranegara ajip sudah dianggap anak kandung sendiri, oleh karena itu Ajip memanggil beliau Ayah.

Walaupun terlihat kasat mata memiliki ketebalan yang sangat menyeramkan, buku ini sangat menarik. Cukup direkomendasikan bagi mereka yang ingin tahu sejarah masa lalu dari sudut pandang sastrawan/budayawan. Dibuku ini juga terpapar bagaimana sikap mempertahankan nilai-nilai keyakinan, sehingga banyak sekali manfaat yang bisa kita petik dari buku ini.

Saya telah menulis hampir tanpa jeda sejak umur enam tahun, tapi sebelumnya saya tidak pernah merasa begitu bergairah akan suatu gagasan. Saya hanya duduk dan berpikir, selama empat jam (menunggu keterlambatan kereta api), dan semua detil bermunculan di otak saya, dan anak laki – laki kurus berambut hitam dan berkaca mata yang tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir semakin lama semakin nyata bagi saya. (J.K. Rowling)
Kisah perjuangan seorang Joanne Kathleen Rowling sebelum akhirnya terkenal seperti saat ini begitu menginspirasi. J.K Rowling yang lahir di Yate, Gloucestershire Utara, Inggris, 31 Juli 1965, bukan tidak mengenal kata perjuangan, sempat menganggur, bercerai dan bangkrut namun bisa bangkit dari keterpurukan dan berdiri menjadi salah satu wanita yang mempengaruhi dunia saat ini.

J.K Rowling
Kisah fiksi spektakuler Harry Potter yang dikarangnya membawa J.K Rowling menjadi salah satu perempuan terkaya di dunia. Tapi menuju kesuksesannya, tidak sedikit kenangan pahit dan rintangan yang harus dilewatinya. Berawal dari keterpurukan saat dia harus menjadi seorang single mom, setelah bercerai dari suaminya yang seorang wartawan, harus merawat seorang anak perempuannya dan harus menghidupinyq dalam kondisi yang serba kekurangan. Rowling kemudian  pindah ke Edinburgh dengan anaknya dan mencoba memulai hidup baru. Lulusan Universitas Exeter ini merasa mungkin kemampuan menulisnya bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi segala masalahnya.

Kemunculan novel Harry Potter and The Philosopher’s Stone (seri pertama Harry Potter), dimulai Rowling dengan fasilitas yang tidak memadai. Tapi hal itu bukan menjadi penghalang baginya dalam menjalankan, membentuk dan menciptakan Harry Potter. Rowling pun harus menggunakan mesin tik lama dan mengulang mengetik beberapa kali agar bisa disebarluaskan di beberapa publisher. Setelah selesai dengan novel pertamanya apakah jalan Rowling menjadi lebih mulus?

Tidak, perjuangannya belum berhenti sampai disitu, dirinya sempat ditolak 12 penerbit tapi tidak membuat Rowling berhenti mencoba. Hingga seorang anak perempuan berusia 8 tahun, yaitu Alice Newton, membaca bab pertama bukunya dan menuntut lanjutan buku itu kepada ayahnya, yang menjabat sebagai Kepala Penerbitan Bloomsbury.. Penerbit Bloomsbury akhirnya menawari Rowling uang muka sebesar 2500 euro untuk menerbitkan novel tersebut. 30 Juni 1997, Harry Potter and The Philosopher’s Stone (seri pertama Harry Potter) diterbitkan di Britania Raya. Dan 1 September 1998, novel ini diterbitkan di Amerika oleh penerbit Scholastic dengan Harry Potter and The Sorcerer’s Stone.

Rowling berhasil menjual novel Harry Potter seri pertama untuk jumlah sebanyak $4000 dan menjadi best seller satu bulan setelah publikasi. Setelah itu keberuntungan selalu datang kepada Rowling, semua buku seri Harry Potter sukses besar begitu pula filmnya. Banyak anak – anak generasi 90an yang merasa ‘tumbuh’ bersama Harry Potter. Begitu pula dengan para pemerannya seperti Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint yang tumbuh seiring bermain di film Harry Potter

Pada tahun 1997, buku tentang Harry Potter menjadi sama terkenalnya dengan gambaran tokoh dalam buku tersebut, hingga menelurkan beberapa penghargaan. Dan Harry Potter menjadi tokoh yang lekat di hati banyak anak. Penggambarannya tentang karakter Harry Potter begitu nyata, sehingga menyentuh banyak pembacanya. Terutama, tentang kerinduan Harry akan kedua orang tuanya. Hal yang dirasakan J.K.Rowling sendiri ketika ibunya meninggal dunia saat ia tengah menulis Harry Potter and The Philosopher’s Stone.

Bagi para penulis, kisah tentang Harry Potter dan J.K.Rowling merupakan kisah yang dapat menginspirasi tentang bagaimana wanita tersebut tidak pernah menyerah dalam mempersembahkan karakter Harry Potter ke tengah masyarakat. Memang, pada awalnya, jarang ada penulis yang bisa langsung menembus ketatnya persaingan dalam dunia tulis-menulis. Bahkan, Stephen King yang sangat terkenal dengan karyanya, sempat berpuluh-puluh kali ditolak karyanya.

20 Desember 1934, Julius Darmaatmadja lahir. Ia adalah kardinal Indonesia yang juga Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama ini terpanggil dan terpilih sebagai nelayan penjaring: "Atas perintahMu, kutebarkan jalaku." Ia juga melayani sebagai Uskup Agung Jakarta. Pastor kelahiran Jagang, Muntilan ini menyukai warna serba biru yang melambangkan warna damai. "LIFE goes on", begitu kata orang Inggris.
Kardinal Julius Darmaatmadja
Memang, kehidupan terus berjalan dan berjalan. Seiring dengan perjalanan kehidupan, berbagai peristiwa mengisi dan mewarnai kehidupan itu sendiri. Hal itu pula yang menghiasi perjalanan hidup Julius Kardinal Monsinyur Rijadi Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Jakarta.

JULIUS sendiri adalah nama tambahan sebagai seorang Katolik. Rijadi, nama kecilnya saat lahir di Salam, Jawa Tengah, 20 Desember 1934. Kardinal adalah jabatan konsultatif sejak dilantik 27 November 1994 di Roma oleh Paus Yohanes Paulus II. Monsinyur adalah panggilan untuk pemegang jabatan uskup (sebagai Uskup Agung Semarang 1983-1996, dan Uskup Agung Jakarta 1996-sekarang). Darmaatmadja, nama kedua orangtuanya, pasangan Joachim Djasman Djajaatmadja dan Maria Siti Soepartimah. SJ atau Serikat Jesus, sebab dia anggota ordo yang didirikan Santo Ignatius de Loyola tahun 1534 itu. Namun, wajah dan postur tubuhnya tidak menunjukkan bahwa dia sudah berusia lebih dari 70 tahun.

Motivasi yang tinggi untuk terus berkarya tampaknya menjadi lokomotif yang membuat Kardinal tampak selalu bersemangat bekerja. Karena itu, ketika ditanya sampai kapan akan mengambil jeda dari sebuah perjalanan panjang, Kardinal menyatakan, sama seperti sebelum usia 70 tahun.

"Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, sampai kapan saya bisa menyelesaikan tugas peziarahan saya. Kalau Dia menghendaki saya kuat bekerja, saya akan terus bekerja," ujarnya.

Meski demikian, Kardinal amat menyadari, menjadi tua akan disertai munculnya aneka kelemahan. Sebagai orang tua, spiritualitas kerja yang sebelumnya menghiasi kehidupan tidak bisa lagi dijalankan. Spiritualitas kerja itu harus diganti. "Orang yang biasa bekerja, lalu tidak bekerja lagi ketika tua, tentu bingung. Itu biasa. Juga kalau dulu biasa menasihati, sekarang tak ada yang meminta nasihat. Kalau dulu bisa berfungsi terhadap orang lain, lalu tidak berfungsi lagi. Itu semua menjadi perubahan hidup yang harus dihadapi. Maka, sebagai orang tua harus mencari fungsi baru. Di sana ada passio, ada rendah hati, ada pengabdian, ada penyerahan diri. Maka sekarang pun mulai dikembangkan, pendampingan terhadap para orangtua," katanya.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pemuka umat Katolik, Kardinal juga sibuk menjalin persaudaraan dengan pemimpin umat yang lain. Ia akrab dengan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafii Maarif; dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU); KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nurcholish Madjid, cendekiawan, dan lain-lain. Ia perlu memberi contoh kepada para pastor dan umat Katolik untuk membangun persaudaraan sejati dengan umat yang lain.

"Upaya membangun persaudaraan dengan umat lain itu harus kontekstual. Maka para pastor yang berkarya di tengah masyarakat pun harus berkarya dalam pastoral kontekstual. Mulailah dengan berkunjung, saling mengenal. Jalankanlah hidup bertetangga dengan baik. Kalau sudah saling mengenal, lalu saling peduli. Entry point-nya adalah peristiwa-peristiwa keluarga, seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan sebagainya," ucapnya.

Atas pemahaman itu, tidak mengherankan apabila sebagai pemimpin, Kardinal sering berpesan agar kehadiran umat Katolik di masyarakat menjadi rahmat bagi yang lain. "Ini tidak mudah dijalankan, di tengah pengaruh macam-macam. Menjadi rahmat bagi masyarakat akan menjadi jelas apabila kedatangannya selalu dirindukan oleh orang lain," paparnya.

Menyinggung kondisi masyarakat secara umum, Kardinal amat prihatin betapa nilai agama dan iman tidak lagi memengaruhi kehidupan. Orang bisa membunuh seenaknya. Juga nilai budaya tak lagi berdampak pada perilaku. Begitu pula nilai ideologi tak lagi bisa berperan dalam kehidupan bernegara.

"Amat disayangkan, ketiga hal itu tidak lagi bisa banyak berperan dalam membangun hidup bermasyarakat dan bernegara. Maka kekuatan agama diharapkan bisa menjadi kekuatan moral guna membangun kembali nilai agama, budaya, dan ideologi dalam hidup bermasyarakat," katanya.

Meski demikian, ia enggan menjawab pertanyaan sekitar relasi antar-agama yang didasarkan generalisasi. Masalahnya, begitu banyak hal yang melatar-belakangi berbagai masalah yang ada di masyarakat. Misalnya dikatakan, hubungan antar-agama jelek, sampai saling membunuh.

"Bukti ini benar, tetapi ada bukti lain yang juga benar, betapa semua kelompok agama menjalin hubungan dengan amat baik. Ada banyak bukti, saudara-saudara kita yang Muslim mau menjaga gereja agar kita bisa beribadah dengan tenang. Itu pula yang menyebabkan bom yang dikirim ke Katedral beberapa tahun lalu hanya meledak di luar, bukan di dalam gereja," ujarnya menambahkan.

Apabila disebut postur tubuhnya tampak lebih muda, itu karena Kardinal berusaha menjaga kebugaran dengan hidup teratur, melakukan relaksasi, termasuk rutin berolahraga "tread mill" setengah jam sehari. Lahir sebagai anak bungsu dari enam saudara keluarga guru, perjalanan panggilan hidup Rijadi lancar-lancar saja. Tamat sekolah menengah pertama (SMP), masuk Seminari Menengah Mertoyudan, novisiat SJ dua tahun di Girisonta, belajar filsafat di Poona, India, teologi di Yogyakarta, dan ditahbiskan sebagai pastor oleh almarhum Kardinal Darmoyuwono tanggal 18 Desember 1969. "Kalau diberi umur panjang, tahun 2009 nanti saya genap 13 tahun berkarya di Keuskupan Agung Jakarta, dan berusia 75 tahun. Selama 13 tahun juga saya sebagai Uskup Agung Semarang (1983-1996). Tuhanlah yang mengatur ini semua," katanya menambahkan.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

19 Desember 1948, Belanda melaksanakan Agresi Militer Belanda II atau dikenal dengan Operasi Gagak. Agresi ini diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Indonesia.
Seorang prajurit Indonesia bersiap siaga di perbatasan Yogyakarta
Dalam agresi ini juga Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya ditangkap hingga menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara.

Di hari pertama Agresi Militer Belanda II, Belanda menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan menuju Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet saat itu kemudian mengadakan sidang kilat, dan dalam sidang tersebut diambil keputusan, bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.
Tanggal 18 Desember 1948 pukul 23.30, siaran radio antara dari Jakarta menyebutkan, bahwa besok paginya Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Dr. Beel, akan mengucapkan pidato yang penting.

Sementara itu Jenderal Spoor yang telah berbulan-bulan mempersiapkan rencana pemusnahan TNI memberikan instruksi kepada seluruh tentara Belanda di Jawa dan Sumatera untuk memulai penyerangan terhadap kubu Republik. Operasi tersebut dinamakan "Operasi Kraai" .

Pukul 02.00 pagi, 1e para-compgnie atau pasukan para I, KST di Andir memperoleh parasut dan memulai memuat keenambelas pesawat transportasi, dan pukul 03.30 dilakukan briefing terakhir. Pukul 03.45 Mayor Jenderal Engles tiba di bandar udara Andir, diikuti Jenderal Spoor 15 menit kemudian. Spoor melakukan inspeksi dan mengucapkan pidato singkat. Pukul 04.20, pasukan elit KST di bawah pimpinan Kapten Eekhout naik ke pesawat dan pukul 04.30 pesawat Dakota pertama tinggal landas. Rute penerbangan ke arah timur menuju Maguwo diambil melalui Lautan Hindia. Pukul 06.25 mereka menerima berita dari para pilot pesawat pemburu, bahwa zona penerjunan telah dapat dipergunakan. dan Pukul 06.45 pasukan PARA mulai diterjunkan di Maguwo.

Seiring dengan penyerangan terhadap bandar udara Maguwo, pagi harinya 19 Desember 1948, WTM Beel berpidato di radio dan menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Renville. Penyerbuan terhadap semua wilayah Republik di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II telah dimulai. Belanda konsisten dengan menamakan agresi militer ini sebagai "Aksi Polisional".

Kisah Silas Papare, Pahlawan Dari Timur Indonesia

Penyerangan terhadap Ibukota Republik, diawali dengan pengeboman atas lapangan terbang Maguwo, di pagi hari. Pukul 05.45 lapangan terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Pertahanan TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150 orang pasukan pertahanan pangkalan udara dengan persenjataan yang sangat minim, yaitu beberapa senapan dan satu senapan anti pesawat 12,7. Senjata berat sedang dalam keadaan rusak. Pertahanan pangkalan hanya diperkuat dengan satu kompi TNI bersenjata lengkap. Pukul 06.45, 15 pesawat Dakota menerjunkan pasukan KST Belanda di atas Maguwo. Pertempuran merebut Maguwo hanya berlangsung sekitar 25 menit. Pukul 07.10 bandara Maguwo telah jatuh ke tangan pasukan Kapten Eekhout. Di pihak Republik tercatat 128 tentara tewas, sedangkan di pihak penyerang, tak satu pun jatuh korban.

Sekitar pukul 09.00, seluruh 432 anggota pasukan KST telah mendarat di Maguwo, dan pukul 11.00, seluruh kekuatan Grup Tempur M sebanyak 2.600 orang –termasuk dua batalyon, 1.900 orang, dari Brigade T- beserta persenjataan beratnya di bawah pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen telah terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak ke Yogyakarta.

Serangan terhadap kota Yogyakarta juga dimulai dengan pengeboman serta menerjunkan pasukan payung di kota. Di daerah-daerah lain di Jawa antara lain di Jawa Timur, dilaporkan bahwa penyerangan bahkan telah dilakukan sejak tanggal 18 Desember malam hari.

17 Desember : Soe Hok Gie Dan Masa Hidupnya

Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda telah memulai serangannya, Panglima Besar Soedirman mengeluarkan perintah kilat yang dibacakan di radio tanggal 19 Desember 1948 pukul 08.00. Soedirman yang kala itu dalam keadaan sakit melaporkan diri kepada Presiden Soekarno. Soedirman didampingi Kolonel Simatupang, Komodor Suriadarma serta dr. Suwondo, dokter pribadinya.

Kabinet mengadakan sidang dari pagi sampai siang hari. Karena merasa tidak diundang, Jenderal Soedirman dan para perwira TNI lainnya menunggu di luar ruang sidang. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, akhirnya Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak meninggalkan Ibukota. Mengenai hal-hal yang dibahas serta keputusan yang diambil dalam sidang kabinet tanggal 19 Desember 1948.

Berhubung Jendral Soedirman masih sakit, Presiden berusaha membujuk supaya tinggal dalam kota, tetapi Sudirman menolak. Simatupang mengatakan sebaiknya Presiden dan Wakil Presiden ikut bergerilya. Menteri Laoh mengatakan bahwa ternyata pasukan yang akan mengawal tidak ada. Jadi Presiden dan Wakil Presiden terpaksa tinggal dalam kota agar selalu dapat berhubungan dengan KTN sebagai wakil PBB. Setelah dipungut suara, hampir seluruh Menteri yang hadir mengatakan, Presiden dan Wakil Presiden tetap dalam kota.

Sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan Dewan Siasat, yaitu basis pemerintahan sipil akan dibentuk di Sumatera, maka Presiden dan Wakil Presiden membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi, bahwa Ia diangkat sementara membentuk satu kabinet dan mengambil alih Pemerintah Pusat. Pemerintahan Syafruddin ini kemudian dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Selain itu, untuk menjaga kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera, juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf Kedutaan RI, L. N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.

Hari Juang Kartika Dan Mengenang Pertempuran Ambarawa

Empat Menteri yang ada di Jawa namun sedang berada di luar Yogyakarta sehingga tidak ikut tertangkap Mereka adalah Menteri Dalam Negeri, dr. Sukiman, Menteri Persediaan Makanan,Mr. I.J. Kasimo, Menteri Pembangunan dan Pemuda, Supeno, dan Menteri Kehakiman, Mr. Susanto. Mereka belum mengetahui mengenai Sidang Kabinet pada 19 Desember 1948, yang memutuskan pemberian mandat kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat di Bukittinggi, dan apabila ini tidak dapat dilaksanakan, agar dr. Sudarsono, Mr. Maramis dan L.N. Palar membentuk Exile Government of Republic Indonesia di New Delhi, India.

Pada 21 Desember 1948, keempat Menteri tersebut mengadakan rapat dan hasilnya disampaikan kepada seluruh Gubernur Militer I, II dan III, seluruh Gubernur sipil dan Residen di Jawa, bahwa Pemerintah Pusat diserahkan kepada 3 orang Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehakiman, Menteri Perhubungan.

Pada pukul 07.00 WIB tanggal 22 Desember 1948 Kolonel D.R.A. van Langen memerintahkan para pemimpin republik untuk berangkat ke Pelabuhan Udara Yogyakarta untuk diterbangkan tanpa tujuan yang jelas. Selama di perjalanan dengan menggunakan pesawat pembom B-25 milik angkatan udara Belanda, tidak satupun yang tahu arah tujuan pesawat, pilot mengetahui arah setelah membuka surat perintah di dalam pesawat, akan tetapi tidak disampaikan kepada para pemimpin republik. Setelah mendarat di Pelabuhan Udara Kampung Dul Pangkalpinang (sekarang Bandara Depati Amir) para pemimpin republik baru mengetahui, bahwa mereka diasingkan ke Pulau Bangka, akan tetapi rombongan Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus diterbangkan lagi menuju Medan, Sumatera Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat, sementara Drs. Moh. Hatta (Wakil Presiden), RS. Soerjadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), MR. Assaat (Ketua KNIP) dan MR. AG. Pringgodigdo (Sekretaris Negara) diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul Pangkalpinang dan terus dibawa ke Bukit Menumbing Mentok dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen.

Setelah itu Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya dari luar kota. Perjalanan bergerilya selama delapan bulan ditempuh kurang lebih 1000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak jarang Soedirman harus ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit keras. Setelah berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.

Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah pasukan Siliwangi. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Perjalanan yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat terpaksa pula menghadapi gerombolan DI/TII.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku
Kata bijak diatas disampaikan Silas Papare, Pahlawan dari Timur Indonesia saat memperjuangkan Irian Barat / Papua agar terlepas dari belenggu kolonialisme Belanda dan kembali bergabung dengan NKRI.

Silas Ayari Donari Papare yang biasa lebih dikenal dengan panggilan Silas Papare, salah satu generasi pendahulu sekaligus pahlawan Indonesia khususnya wilayah Papua. Ia dilahirkan di Serui, Papua, 18 Desember 1918 dan menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Juru Rawat tahun 1935 kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Kegigihannya dalam berjuang untuk kemerdekaan Papua membuatnya sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda.

Tercatat Desember 1945, Silas Papare bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi pemuda-pemuda di Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua agar melancarkan pemberontakan. Rencana itu pun tak bisa dilanjutkan gagal karena telah bocor. Silas Papare kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Jaya Pura. Setelah bebas, ternyata Silas Papare tidak patah semangat untuk memerdekakan tanah Papua dari Belanda, Ia pun menjalankan pemberontakan yang kedua tapi sayang rencananya kembali gagal karena bocor dan dan Silas Papare dipindahkan ke Serui. Di Serui inilah ia bertemu dan berkenalan dengan Gubernur Sulawesi yang diasingkan Belanda Dr.Sam Ratulangi. Perkenalannya ini yang kemudian membuat Silas Papare semakin yakin bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Hal tersebut membuat beliau akhirnya mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Yang berakibat, Silas kembali ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, Silas berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta. Di Yogyakarta, Silas Papare kemudian membentuk Badan Perjuangan Irian yang berusaha keras untuk memasukkan wilayah Irian Jaya ke dalam negara Indonesia.
Silas Papare yang memang sangat menginginkan cepatnya berakhir penguasaan Belanda di tanah leluhurnya itu dengan cepat mengambil bagian dalam rencana pemerintah RI tersebut. Bahkan rupanya jauh-jauh hari, Silas malah sudah mempersiapkan diri akan perang terbuka ini dengan membentuk Kompi Irian di lingkungan Mabes Angkatan Darat.

Namun pada saat akhir-akhir hendak meletusnya perang terbuka tersebut, Belanda akhirnya bersedia berunding. Penandatangan persetujuan pun resmi di lakukan oleh keduabelah pihak pada tanggal 15 Agustus 1962. Dalam penantanganan Persetujuan New York itu, Silas Papare ikut terlibat sebagai anggota delegasi RI.
Tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia. Hal sesuai dengan isi persetujuan New York tersebut. Nama Irian Barat pun kemudian diganti menjadi Irian Jaya.

Walau masa hidup Silas Papare lebih banyak terkuras pada usaha pembebasan negerinya, namun semua jerih payahnya itu terasa terbayar sudah. Tanggal 17 Maret 1978, Silas baru kemudian meninggal dunia di tanah kelahirannya Serui. Dengan begitu, kurang lebih lima belas tahun sisa hidupnya masih bisa menikmati alam kemerdekaan negerinya yang diperjuangkannya ini.
Kini perjuangan diteruskan kepada generasi muda. Namun perjuangan kini bukan lagi mengusir kolonial, tapi perjuangan mengusir kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, perpecahan, yang kini sepertinya masih akrab di bumi cendrawasih ini.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Soe Hok Gie di Puncak Pangrango 1967
17 Desember 1942, Indonesia diberkahi dengan kelahiran Soe Hok Gie, sosok kaliber, idealis, kritis dan komitmen atas Indonesia. Sayang Soe tak berumur panjang, Ia meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 di umur 26 tahun.

Semasa hidupnya, Soe dikenal sebagai aktivis Indonesia beretnis Tionghoa yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia sendiri adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Soe juga menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan mahasiswa pada masanya, dan namanya melejit karena catatan hariannya yang dibukukan oleh LP3ES

"Sejarah dunia adalah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan, sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan sejarah tidak akan lahir? Seolah-olah bila kita membagi sejarah maka yang kita jumpai hanya pengkhianatan, Seolah-olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup diatasnya. Ya, betapa tragisnya"

Kata-kata diatas adalah pemikiran Soe Hok Gie yang dipaparkannya saat baru lulus SMA di tahun 1961. Tak heran jika Soe sudah begitu kritis saat SMA karena sejak SMP dirinya sudah banyak membaca buku karya Spengler, Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Chairil Anwar, Bernard Shaw, Shokolov di antaranya. Mungkin memang sejak kecil Soe sudah menaruh minat pada sastra. Selain wawasannya yang luas Soe Hok Gie juga terkenal sebagai pemuda yang idealis, moralis dan menjunjung teguh keadilan. sikap idealis nya sangat tergambarkan dalam catatan hariannya.

"Minggu-minggu ini adalah hari terberat untuk saya, karena saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". 

(salah satu kutipan yang menggambarkan Dirinya seorang idealis murni)

Catatan hidup Soe Hok Gie tergambar dalam sebuah buku "Catatan Sang Demonstran" yang merupakan kumpulan dari catatan harian Soe Hok Gie. Buku ini pun dibagi menjadi 8 bagian, pendahuluan Soe Hok Gie : Sang demonstran, Masa kecil, di ambang remaja, lahirnya seorang aktivis, catatan seorang demonstran, perjalanan ke amerika, politik, pesta dan cinta, dan mencari makna.

Kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti… Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan indonesia”  Kita, mahasiswa sejak dulu hingga saat ini tetaplah generasi penerus bangsa untuk masa yang akan datang. (Soe Hok Gie)
Biografi Soe Hok Gie
Setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di SMA Kolese Kanisius, Soe kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 sampai 1969; setelah menyelesaikan studi di universitas, ia menjadi dosen di almamaternya sampai kematiannya. Ia selama kurun waktu sebagai mahasiswa menjadi pembangkang aktif, memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Soe adalah seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Setelah Riri Riza merilis film berjudul Gie pada tahun 2005, artikel-artikelnya disusun oleh Stanley dan Aris Santoso yang diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan oleh penerbit GagasMedia.

Sebagai seorang pendukung hidup yang dekat dengan alam, Soe seperti dikutip Walt Whitman dalam buku hariannya: "Sekarang aku melihat rahasia pembuatan orang terbaik itu adalah untuk tumbuh di udara terbuka dan untuk makan dan tidur dengan bumi." Pada tahun 1965, Soe membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Dia menikmati kegiatan hiking, dan meninggal karena menghirup gas beracun saat mendaki gunung berapi Semeru sehari sebelum ulang tahun ke 27. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Dia dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.[4]

Soe pernah menulis dalam buku hariannya:
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Pernyataan Soe serupa dengan komentar Friedrich Nietzsche, kepada seorang filsuf Yunani.
Buku hariannya diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Soe dalam tesis universitasnya juga diterbitkan, dengan judul Di Bawah Lantera Merah.

Buku harian Soe ini menjadi inspirasi untuk film 2005, berjudul Gie, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie. Soe juga merupakan subjek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie-: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Lithograph dari abad ke-19 yang menggambarkan peristiwa Boston Tea Party
16 Desember 1773, dikenal dengan peristiwa Boston Tea Party atau juga disebut Pesta Teh Boston. Peristiwa ini adalah aksi protes penduduk koloni Amerika melawan penjajah Inggris saat itu dengan cara menghancurkan berpeti-peti teh yang berada di tiga kapal di pelabuhan Boston.

Insiden ini berawal saat East India Company (EIC) yang memiliki persedian teh dalam jumlah besar tak bisa menjual barangnya di Inggris, hingga membuat perusahaan tersebut hampir bangkrut. Pemerintah Inggris kemudian turun tangan dan meloloskan Tea Act tahun 1773, dan memberikan hak kepada EIC untuk mengekspor barangnya ke koloni Amerika tanpa harus membayar pajak. Dengan cara ini, EIC akhirnya bisa menjual barangnya terutama teh di bawah harga normal. Tapi kemudian inilah yang memicu konflik akibat monopoli perdagangan yang merugikan pedagang lokal. Kebencian pun terus berlanjut akibat monopoli perdagangan EIC hingga memicu gerakan boikot diantara penduduk koloni. Boikot ini pun mampu memobilisasi banyak pengikut dan menumbuhkan solidaritas antar koloni dan penduduknya. Wanita bahkan turut serta dalam aksi protes dan boikot tersebut  hingga tersususn rencana untuk mencegah kapal EIC berlabuh.

Para agen perdagangan diminta untuk menuruti tuntutan boikot dan meminta kapal yang berisi teh kembali ke Inggris atau menyimpan muatannya di gudang. Namun, para agen perdagangan di Boston menolak dan tetap bersiap menyambut kapal dagang yang berlabuh meski mendapatkan penentangan.

Kamis, 16 Desember 1773, tiga Kapal pembawa teh yang dijadwalkan berlabuh di pelabuhan Boston, yakni The Dartmouth, Eleanor, dan Beaver. Pada malamnya telah bergerak sekelompok pria berjumlah 30 hingga 300 orang yang menyamar sebagai Indian Mohawk dibawah komando Samuel Adam bertolak menuju Wharf Griffin tempat kapal dagang Inggris berlabuh. Saat ketiga kapal berlabuh, para pemrotes yang menyamar sebagai mohawk dengan cepat mengosongkan berpeti-peti muatan teh dari kapal dan membuangnya ke laut. Dan saat pagi tiba, sekitar 45.000 kg teh yang diperkirakan bernilai ₤ 10.000 telah tertumpah ke perairan pelabuhan Boston.

Peristiwa yang dikenal dengan Boston Tea Party ini kemudian mendapatkan reaksi dari pihak pemerintah Inggris maupun pemerintah koloni. Benjamin Franklin mengatakan, bahwa teh yang telah hancur harus dibayar dan dia bahkan menawarkan untuk membayarnya dengan uangnya sendiri. Pelabuhan Boston lantas ditutup pemerintah Inggris dan kemudian memberlakukan berbagai undang-undang diantaranya Intolerable Acts atau Coercive Acts atau Punitive Acts.

Para kolonis kemudian menyebut peraturan ini sebagai undang-undang paksaan yang berisi tentang, Pertama, Menutup pelabuhan kota Boston sampai muatan tehnya selesai dibayar, Kedua, anggota dewan rakyat Massachussetts akan ditunjuk raja Inggris yang sebelumnya dipilih rakyat koloni sendiri, Ketiga, Anggota dewan juri dalam pengadilan ditunjuk Sherif yang merupakan bawahan Gubernur, yang  sebelumnya juga dipilih rapat koloni, dan Keempat, rapat kota diadakan hanya dengan gubernur, walau sebelumnya tidak diperlukan.

Namun berbagai undang-undang yang diberlakukan ini, tidak menyurutkan penduduk koloni untuk melanjutkan aksi perlawanannya seperti pembakaran Peggy Stewart. Boston Tea Party akhirnya memicu Revolusi Amerika. Dan saat itu, banyak penduduk koloni di Boston dan negara bagian lain berkomitmen melakukan boikot dengan tidak mengonsumsi teh. Bahkan dampak dari hal tersebut membuat berbagai dukungan melawan Inggris dengan mengadakan rapat antar koloni pada tanggal 5 Desember 1774, yang kemudian dikenal dengan istilah Kongres Kontinental.

Perang Kemerdekaan Amerika pada mulanya hanya merupakan penetang kebijakan Pemerintah Inggris yang dianggap semena-mena yang saat itu belum terbesit untuk mencapai kemerdekaan. Pertempuran pertama kemudian terjadi di Lexington, dan selanjutnya di Boston. Inggris akhirnya meminta bantuan penduduk Kanada untuk melawan penduduk Koloni Amerika. Namun permintaan itu di tolak dengan alasan senasib sebagai penduduk koloni. Bahkan paksaan Inggris terhadap penduduk Kanada malah menimbulkan pertempuran dan keadaan tersebut dimanfaatkan Bangsa Amerika dengan menyiapkan tentara yang dipimpin George Washington yang pernah berjasa kepada Inggris dalam perang Tujuh Tahun.

Hari Juang Kartika Dan Mengenang Pertempuran Ambarawa

Pada Tahun 1776, Thomas Paine mengutarakan pendapatnya dalam sebuah karangannya yang berjudul 'Comon Sense' berisi tentang gagasan Kemerdekaan. Pendapat Paine itu akhirnya menyadarkan penduduk Koloni Amerika untuk mengubah tujuan perjuangan mereka dari menentang kebijakan Pemerintah Inggris menjadi perjuangan mencapai kemerdekaan. Tulisan tersebut mengejutkan banyak pihak, baik itu pihak kolonis maupun kolonial, sebab Thomas Paine merupakan seorang pemikir politik dan penulis dari Inggris yang menerbitkan pamfletnya dengan tujuan untuk membantu masyarakat koloni.  Efek dari 'Common Sense' ini, semakin membulatkan tekad seluruh koloni untuk memisahkan diri. Namun hal itu tidak segera terwujud karena harus ada kesepakatan dari seluruh koloni demi terwujudnya pencetusan deklarasi kemerdekaan.

14 Desember Irak Merdeka Dari Inggris

Akhirnya 10 Mei 1776, setahun setelah pertemuan pertama Kontinental Kongres Kedua, sebuah resolusi disepakati seluruh koloni untuk memisahkan diri. Peristiwa tersebut diikuti munculnya gagasan untuk mendeklarasikan kemerdekaan atas Inggris pada tanggal 7 Juni 1776 oleh Richard Henry Lee, seorang delegasi dari negara bagian Virginia yang disampaikan pada Kontinental Kongres Kedua. Selanjutnya diadakan kongres Philadelphia yang dihadiri oleh wakil-wakil 13 daerah (Negara bagian). Mereka sepakat untuk menanadatangani sebuah deklarasi yang dikenal dengan Declaration of Independence yang telah disusun oleh Thomas Jefferson pada tanggal 4 Juli 1776 dan dijadikan Hari Kemerdekaan Amerika.

Deklarasi Djuanda Dan Kemenangan Laut Indonesia

Kongres pun kemudian menyepakati adanya Articles of Confederation sehingga terbentuklah United States of America (USA). Deklarasi ini menyebutkan, bahwa hak-hak tiap individu dalam memperoleh kebebasan adalah sama. Bahwa setiap orang memiliki hak asasi masing-masing yang patut diperjuangkan tanpa harus diinjak-injak satu sama lain. Semua yang diperjuangkan sebagai kemerdekaan adalah demi terciptanya kebahagiaan atas nama hak-hak dasar seseorang. Oleh karena itu, hal diatas sebenarnya menjelaskan bahwa pengahapusan perbudakan besar-besaran di Amerika diperlukan adanya. Tidak ada yang berhak menjadi tuan atas lainnya dan mempekerjakannya secara tidak manusiawi. Namun, hak-hak tersebut perlu dipertanggungjawabkan. Dalam artian, harus ada yang mengontrolnya yaitu pemerintah. Pemerintah tersebut berasal dari yang diperintah atau dengan kata lain, demokrasi.

Tulisan ini diolah dari beberapa sumber

"Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara" 

(Jendral Soedirman)


15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat yang sebelumnya bernama Hari Infanteri. Peringatan ini untuk mengenang Pertempuran Ambarawa berikut sejarah pertempuran Ambarawa.

Pada 20 Oktober 1945, tentara Sekutu dan NICA di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Mereka disambut baik, Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas mereka, sedangkan Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan tersebut justru dipersenjatai sehingga timbul Insiden bersenjata di kota Magelang. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak layaknya penguasa dan mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. Tidak mau berdiam diri TKR Resimen Magelang pimpinan Letkol. M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Secara diam-diam pasukan Sekutu meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa, Dan Segera dikejar oleh Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini. Tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

14 Desember Irak Merdeka Dari Inggris

Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I Soerjosoempeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letkol. Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, namun ia gugur terlebih dahulu. Sejak gugurnya Letkol. Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Soedirman merasa kehilangan seorang perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kol. Soedirman memberikan napas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan di antara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain.

Deklarasi Djuanda Dan Kemenangan Laut Indonesia

Ketika matahari mulai terbit pada 23 November 1945, mulailah pertempuran dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan kerkhop Belanda di Jl. Margo Agoeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke tempat kedudukan Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto dan Yon. Soegeng.

Kegagalan Program Transmigrasi Dan Lemahnya Evaluasi Pemerintah

Pada 11 Desember 1945, Kol. Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Pada 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pembukaan serangan dimulai dari tembakan mitraliur terlebih dahulu, kemudian disusul oleh penembak-penembak karaben. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Didirikannya Monumen Palagan Ambarawa menjadi kenangan atas Kemenangan pertempuran inidan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika setiap 15 Desember.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

14 Desember 1927, Irak yang pernah dijajah Inggris (Britania Raya) berhasil memerdekakan diri. Dan Irak kemudian mengganti namanya menjadi Republik Irak (Al Jumhuriyah al Iraqiyah) yang merupakan sebuah negara di Timur Tengah atau Asia Barat Daya, yang meliputi sebagian terbesar daerah Mesopotamia serta ujung barat laut dari Pegunungan Zagros dan bagian timur dari Gurun Suriah.

Secara historis Irak dikenal sebagai Mesopotamia, yang secara harafiah berarti "di antara sungai-sungai" dalam bahasa Yunani. Tanah ini menjadi tempat kelahiran peradaban pertama dunia yang dikenal, budaya Sumeria, diikuti dengan budaya Akkadia, Babilonia dan Asyur yang pengaruhnya meluas ke daerah-daerah tetangganya sejak sekitar 5000 SM.

Peradaban-peradaban ini menghasilkan tulisan tertua dan sebagian dari ilmu pengetahuan, matematika, hukum dan filsafat yang pertama di dunia, hingga menjadikan wilayah ini pusat dari apa yang umumnya dikenal sebagai "Buaian Peradaban". Peradaban Mesopotamia kuno mendominasi peradaban-peradaban lainnya pada zamannya.

Pada abad ke-6 SM, wilayah ini menjadi bagian dari Kekaisaran Persia di bawah Koresy Agung selama hampir 4 abad, sebelum ditaklukkan oleh Alexander Agung dan tetap berada di bawah kekuasaan Yunani selama hampir dua abad. Sebuah suku bangsa Iran dari Asia Tengah yang bernama Parthia kemudian merebut wilayah ini, diikuti dengan Dinasti Sassanid Persia selama 9 abad, hingga abad ke-7.

Di awal abad ke-7, Islam menyebar ke daerah yang sekarang bernama Irak. Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad, Saidina Ali bin Abi Thalib memindahkan ibukota di Kufah "fi al-Iraq" di mana ia menjadi Khulafaur Rasyidin yang ke-4. Bani Umayyah yang berkuasa dari Damaskus di abad ke-7 menguasai Provinsi Irak.

Deklarasi Djuanda Dan Kemenangan Laut Indonesia

Baghdad, ibukota Khilafah Abbasiyah, adalah kota utama bagi dunia Arab dan Islam selama 5 abad. Pada tahun 1258, Baghdad dihancurkan oleh bangsa Mongol. Turki Usmani mengambil alih Baghdad dari Persia pada tahun 1535.

Usmani kehilangan Baghdad ke Dinasti Safavid Persia pada tahun 1509, dan mengambilnya kembali pada tahun 1632. Kekuasaan Utsmani atas Irak berlangsung hingga Perang Dunia I saat Khilafah Turki Usmani berada bersama Kekaisaran Jerman dan Blok Sentral.

Irak berhasil mengembangkan sistem demokrasi mengganti sistem pemerintahan kerajaan Ottoman pada 1 Oktober 1919.

Irak sendiri adalah sebuah Negara yang berbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi di selatan, Yordania di barat, Suriah di barat laut, Turki di utara, dan Iran di timur. Irak mempunyai bagian yang sangat sempit dari garis pantai di Umm Qashr di Teluk Persia.

Kegagalan Program Transmigrasi Dan Lemahnya Evaluasi Pemerintah

Irak mempunyai sejarah yang kaya. Kini Irak termasuk negara berkembang di tengah-tengah perang saudara.

Popularitas Irak pernah menanjak di mata dunia saat Saddam Husein dari Partai Bath memerintah negara tersebut. Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti lahir di Al-Awja, Irak, 28 April 1937-meninggal di Kadhimiya, Irak, 30 Desember 2006 pada umur 69 tahun, merupakan Presiden Irak pada periode 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003, ketika tertangkap oleh pasukan koalisi saat menginvasi Irak pada tahun 2003.

Sebagai pemimpin Irak dan ketua Partai Ba'ath, ia mengambil kebijakan pan-Arabisme sekuler, modernisasi ekonomi, dan sosialisme Arab. Dalam bahasa Arab, nama Saddam berarti orang yang keras kepala atau dia yang menantang (di Irak nama ini juga digunakan sebagai istilah untuk bemper mobil).

Nama Hussein (juga dibaca Husayn dan Hussain) adalah nama kecil ayahnya, Abd al-Majid adalah nama kakeknya, dan at-Tikriti berarti ia dilahirkan dan dibesarkan di (atau dekat) Tikrit. Ia biasa dipanggil Saddam Hussein, atau hanya Saddam untuk lebih singkatnya.

Ia dilahirkan pada 28 April 1937. Saddam adalah Presiden dan diktator Irak dari 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003. Kekuasaannya berakhir setelah Irak diserang oleh suatu pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat pada 2003.

Sebagai anggota utama Partai Ba'ath Irak, yang menganjurkan Pan-Arabisme sekular, modernisasi ekonomi, dan sosialisme Arab, Saddam memainkan pernaan penting dalam kudeta 1968 yang membuat partainya lama berkuasa di negara itu.

Sebagai wakil presiden di bawah sepupunya, Jenderal Ahmed Hassan al-Bakr yang lemah, Saddam memegang kekuasaan penuh terhadap konflik antara pemerintah dan angkatan bersenjata dengan membentuk pasukan keamanan yang menindas dan mengukuhkan wibawanya terhadap aparat pemerintahan.

Hari Anti Korupsi Dan Komitmen Negara Berantas Korupsi

Sebagai presiden, Saddam menciptakan pemerintahan yang otoriter dan mempertahankan kekuasaannya melalui Perang Iran-Irak (1980–1988) dan Perang Teluk (1991). Kedua perang itu menyebabkan penurunan drastis standar hidup dan hak asasi manusia.

Pemerintahan Saddam menindas gerakan-gerakan yang dianggapnya mengancam, khususnya gerakan yang muncul dari kelompok-kelompok etnis atau keagamaan yang memperjuangan kemerdekaan atau pemerintahan otonom.

Sementara ia dianggap sebagai pahlawan yang populer di antara banyak bangsa Arab karena berani menantang Israel dan Amerika Serikat, sebagian orang di dunia internasional tetap memandang Saddam dengan perasaan curiga, khususnya setelah Perang Teluk 1991.

Saddam digulingkan dalam invasi Irak 2003 yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan ditangkap oleh pasukan-pasukan AS pada 13 Desember 2003. Pada 5 November 2006 Hakim Ketua Rauf Rasheed Abdel Rahman menjatuhkan hukuman mati dengan cara digantung kepadanya atas kejahatan terhadap umat manusia.

Pada 26 Desember 2006, Mahkamah Agung Irak menyatakan untuk segera melaksanakan vonis yang telah dijatuhkan. Pada 30 Desember 2006, Saddam dieksekusi. Dua minggu kemudian, tepatnya pada 15 Januari 2007 dini hari, dua pembantunya yaitu Ketua Dewan Revolusioner Irak Awad Ahmed al-Bandar dan Kepala Dinas Intelijen Barzan Ibrahim al-Tikrit menjalani hukuman gantung.

Bahkan, Barzan yang merupakan saudara tiri Saddam dan berbadan gemuk kepalanya terlepas dari badannya saat menjalani eksekusi itu.

Tulisan ini di olah dari berbagai sumber

13 Desember 1957 merupakan sejarah besar bagi masyarakat Indonesia yang dikenal dengan Deklarasi Juanda. Deklarasi ini ada awal dimana Indonesia menyatakan kepada dunia, bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antar pulau merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia tetapi waktu itu belum diakui secara internasional.

Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan:

1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
- Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
- Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan
- Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI


Deklarasi Djuanda awalnya diprakarsai Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957) yang membahas terkait RUU Wilayah Perairan tentang batas wilayah laut di Indonesia. Namun sayangnya, RUU tersebut belum sempat disetujui, karena Kabinet Ali II kemudian bubar, dan digantikan Kabinet Djuanda.

Kabinet Djuanda kemudian melanjutkan RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim, dengan menugaskan Mr. Mochtar Kusumaatmaja untuk mencari dasar hukum mempertahankan wilayah Republik Indonesia. Mr. Mochtar Kusumaatmaja kemudian memberikan gagasan yang disebut Archipelagic Principle yang telah ditetapkan Mahkamah Internasional pada tahun 1951. Sebagai alternatif terhadap RUU dan gagasan Archipelagic Principle itu kemudian dibuatlah konsep ’Asas Negara Kepulauan’. Ir. Djuanda mempunyai pemikiran bahwa harus segera mengesahkan RUU tersebut, karena banyak kapal Belanda yang melakukan intervensi dari dan menuju New Guinea di zona laut yang bebas.

Gagasan Mr. Mochtar Kusumaatmaja yang menggunakan Asas Negara Kepulauan diterima pada saat sidang parlemen tanggal 13 Desember 1957, pemerintah mengeluarkan pengumuman yang isinya :

"Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. Lalu-lintas yang damai diperairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Batas laut teritorial Indonesia yang sebelumnya 3 mil diperlebar menjadi 12 mil diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung terluar pada pulau-pulau dri wilayah negara Indonesia pada saat air laut surut"


Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, maka Ordonantie 1939 sudah tidak berlaku lagi di Indonesia, dan garis teritorial laut Indonesia yang sebelumnya 3 mil menjadi 12 mil. Namun, tidak lama setelah Indonesia mengeluarkan peraturan tersebut, muncul beberapa reaksi terhadap peraturan tersebut. Reaksi protes datang dari beberapa negara seperti dari Amerika Serikat (tanggal 30 Desember 1957), Inggris (3 Januari 1958), Australia (3 Januari 1958), Belanda (3 Januari 1958), Perancis (8 Januari 1958), dan Selandia Baru (11 Januari 1958). Reaksi penolakan tersebut sudah dipikirkan oleh pemerintah Indonesia, dan sudah pula diumumkan bahwa reaksi-reaksi dari berbagai negara tersebut akan diperhatikan dan dibahas dalam konferensi internasional mengenai hak-hak atas lautan yang akan diadakan pada 1958 di Jenewa. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah siap dengan reaksi protes yang diajukan dan siap berdebat pada konferensi di Jenewa.

Delegasi Indonesia yang datang pada konferensi internasional mengenai hak-hak atas lautan yang diadakan di Jenewa terdiri atas Mr. Ahmad Subardjo Djojohadisuryo, S.H. yang pada waktu menjabat sebagai Duta Besar RI di Swiss, Mr. Mochtar Kusumaatmadja, Goesti Moh. Chariji Kusuma, dan M. Pardi (Ketua Mahkamah Pelayaran). Dalam kesempatan itu delegasi Indonesia mengemukakan asas Archipelagic Principle dalam pidatonya. Inilah untuk pertama kali masyarakat internasional mendengar penjelasan mengenai implementasi ’Archipelagic Principle’ terhadap suatu negara yang melahirkan ’Archipelagic State Principle’ yang pada waktu itu masih asing bagi dunia. Asing karena asas ini eksis tapi belum ada satu pun negara di dunia yang menggunakannya. Meskipun telah dijelaskan lewat pidato, negara-negara yang pernah menyampaikan protes kepada pemerintah Indonesia belum dapat menerima. Hanya, Indonesia mendapatkan dukungan dari Ekuador, Filipina, dan Yugoslavia. Pemerintah Indonesia kemudian menggunakan beberapa cara untuk mendapat simpati dari negara-negara lain, misalnya dengan menyebarkan tulisan The Indonesian Delegation to the Conference on the Law of the Sea. Usaha itu mulai membuahkan hasil dan setelah itu mulai banyak negara-negara yang bersimpati dengan perjuangan Indonesia.

Pemerintah Indonesia kemudian merancang peraturan 13 Desember menjadi undang-undang agar kedudukannya menjadi lebih kuat. Pada tahun 1960 pengumuman tersebut dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) No. 4/ 1960. Produk hukum inilah yang kemudian juga disampaikan pada Konferensi Hukum Laut PBB ke dua yang diselenggarakan tahun 1960, namun usul Indonesia masih belum dapat diterima. Pada tahun 1962, Indonesia kembali menerbitkan PERPU No. 8/ 1962 mengenai ’Lalu-lintas Laut Damai Kapal Asing dalam Perairan Indonesia, dan masih terus menyempurnakan implementasi Asas Negara Kepulauan dalam sistem hukum di Indonesia. Jalan Indonesia untuk memperjuangkan diakuinya Asas Negara Kepulauan mulai menemui kemudahan ketika pada tahun 1971 Indonesia dipilih menjadi anggota Committee of the Peaceful Uses of the Sea-Bed and Ocean Floor beyond the Limit of National Jurisdiction yang merupakan badan PBB untuk mempersiapkan Konferensi Hukum Laut PBB. Dipilihnya Indonesia sebagai anggota badan tersebut, membuat Indonesia lebih mudah dalam menyosialisasikan implementasi prinsip negara kepulauan agar mendapatkan pengakuan dari pihak internasional. 12 Maret 1980, dengan menggunakan dasar Hukum Laut Internasional mengenai Economic Exclusive Zone Pemerintah Indonesia juga mengumumkan peraturan tentang Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) selebar 200 mil diukur dari garis dasar. Pada tahun 1983, pengumuman ini disahkan menjadi Undang-undang RI No. 5/ 1983.

Konsep negara kepulauan sendiri baru disetujui oleh mayoritas negara-negara di dunia pada 10 Desember 1982 pada Konvensi Hukum Laut Internasional. Tidak hanya konsep negara kepulauan saja yang disetujui, namun juga mengenai ZEE. Lebih dari itu, konsep negara kepulauan juga dimasukkan sebagai bagian dari Konvensi Hukum Laut PBB. Suatu kemenangan diplomasi Indonesia yang patut dicatat sejarah. Karena itulah kini taggal 13 Desember, hari di saat UU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim dan di terimanya Asas Negara Kepulauan, diperingati sebagai Hari Nusantara.

12 Desember menjadi hari bersejarah bagi program transmigrasi di Indonesia, karena pada 12 Desember 1950 Pemerintah RI menyelenggarakan perpindahan penduduk dari Provinsi Jawa Tengah menuju Gedung Tataan sebelah Utara Kota Tanjung Karang, Karesidenan Lampung. Dan sejak saat itu 12 Desember menjadi momentum sejarah dengan sebutan Hari Bhakti Transmigrasi.
Penolakan Program Transmigrasi di Kalimantan Barat (Istimewa)
Transmigrasi sendiri bertujuan untuk memindahkan jutaan orang Indonesia dari pulau Jawa, Bali, dan Madura yang padat ke pulau-pulau luar yang penduduknya sedikit, demi menciptakan kepadatan penduduk yang merata. Transmigrasi juga bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dengan memberikan lahan dan kesempatan baru bagi para pendatang miskin. Transmigrasi juga akan menguntungkan Indonesia dengan meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam di pulau-pulau yang kurang padat penduduk. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menyatukan seluruh bangsa dengan menciptakan identitas nasional Indonesia yang tunggal yang menggantikan identitas daerah. Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan bahwa tidak ada pemisahan "suku pribumi" dan pendatang di Indonesia, karena Indonesia adalah negara "suku pribumi yang dijalankan dan dipimpin oleh pribumi untuk pribumi".

Transmigrasi yang dicanangkan pemerintah ini memang diharapkan membawa perbaikan ekonomi bagi masyarakat transmigrasi dan masyarakat setempat yang menjadi lokasi transmigrasi. Namun disatu sisi upaya pemerintah tersebut mendapat tantangan atau penolakan dari sebagian masyarakat, padahal program tersebut tidak sepenuhnya buruk bahkan bisa memberikan manfaat pada masyarakat setempat.

Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar pada tahun 2015 mengungkapkan, di balik kesuksesan para transmigran di daerah baru, banyak juga yang gagal. Dan faktor yang menyebabkan kegagalan adalah, ditempatkannya para transmigran di daerah yang tidak subur serta tidak cukup air untuk mengairi persawahan. Kemudian, tidak ada transportasi yang memadai sebagai sarana untuk menjual hasil pertanian mereka.

Tidak sedikit juga para transmigran yang tak mampu beradaptasi, karena beragamnya daerah asal para transmigran, seperti ada transmigran yang berasal dari pesisir pantai dipindahkan ke pedalaman.

"Sementara budaya mereka bukan tani. Akhirnya mereka tidak betah dan lari ke kota, bahkan pulang ke tempat asal," jelasnya.

Musni juga menambahkan, untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam transmigrasi, harus ada social mapping atau pemetaan kehidupan sosial para calon transmigran untuk penempatan mereka di daerah yang baru.

"Kalau para nelayan atau buruh mau ditransmigrasikan, harus disesuaikan dengan tempat mereka yang baru," ungkapnya.

Hari Anti Korupsi Dan Komitmen Negara Berantas Korupsi

Penolakan juga terjadi di Kalimantan Utara Maret Tahun 2016 lewat DPRD Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Mereka dengan terang-terangan menolak pengiriman Transmigrasi, dengan alasan luasan lahan yang ada sudah kian menyempit, sementara laju pertumbuhan penduduk lokal juga kian meningakat dari tahun ke Tahun.

"Kita minta Pemkab Bulungan sudah tidak lagi menerima pengiriman warga transmigran. Dengan alasan berbagai pertimbangan seperti terurai diatas," terang Abraham Mendan, Anggota DPRD Kabupaten Bulungan, Senin, 28/3/2016.

Abraham juga khawatir jika pengiriman warga Tarnsmigrasi dai Pulau Jawa ini terus dipaksakan, akan dapat memunculkan masalah sosial dikemudian hari. Sebagaimana kejadian yang pernah terjadi di Mesuji Provinsi Sumatera Selatan terulang di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Karena jika ini dipaksakan, lama kelamaan kita penduduk asli akan tersingkir, warga kedepannya bisa tidak memperdulikan lagi kearifan lokal.

8 Desember dan Cerita Tentang Munir

Aliansi Pemuda Dayak Kalimatan Barat, pada Februari 2016 juga menolak pogram transmigrasi karena saat itu, Kalimantan Barat tercatat sebagai salah satu daerah yang terdaftar dalam program Transmigrasi.

Ada juga beberapa alasan yang mendasari penolakan program trasnmigrasi ini, diantaranya banyaknya konflik agraria yang terjadi dan belum terselesaikan. Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan pada Kementerian Pertanian, Herdradjat Natawidjaja pada tahun 2016 menyampaikan, 439 konflik agraria itu merata di Kalimantan. Konflik itu terbagi pada profinsi Kalimantan Timur 78 kasus, Propinsi Kalimantan Barat 77 Kasus, Propinsi Kalimantan Selatan 34 Kasus dan Kalimantan Tengah 250 Kasus, ini data pada tahun 2012, belum termasuk konflik agraria yang terjadi tahun 2012 keatas dan belum termasuk yang terjadi di Propinsi Kalimantan Utara. Dengan belum terselesaikannya permasalahan tersebut, dikhawatirkan program transmigrasi akan memperluas dan memperdalam konflik.  Masyarakat mengharapkan konflik agraria yang terjadi saat ini hendaknya dituntaskan terlebih dahulu, dengan begitu permasalahan agraria yang terjadi dalam masyarakat tidak menjadi tumpang tindih dan saling bertumpuk sehingga mempersulit pemecahan masalahnya.

Belum lagi jika dilihat, bahwa tak pernah dievaluasinya program Transmigrasi secara menyeluruh dan komprehensif. Masyarakat menilai bahwa, program transmigrasi selama ini tidak pernah dievaluasi dan dibuktikan efektivitasnya dalam pembangunan ekonomi daerah, terutama masyarakat lokal.  Karena ditemukan dalam banyak kasus transmigrasi malah menimbulkan kecemburuan antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang sebagai warga transmigrasi. Walau juga tidak bisa dipungkiri dibeberapa tempat, transmigrasi menunjukan hasil yang baik. Baik itu untuk masyarakat pendatang maupun masyarakat setempat.

Belum lagi dengan anggapan bahwa, transmigrasi hanya menghasilkan lahan dan buruh murah bagi perusahaan besar swasta bidang perkebunan dan pertanian, sedangkan masyarakat setempat tetap miskin, salah satunya di provinsi Kalimantan Barat. Kenyataannya pun tidak bisa dipungkiri, karena kebanyakan mereka yang dulunya ikut transmigrasi memang ditempatkan di perkebunan-perkebunan yang sedang berkembang.  Kondisi ini, secara tidak langsung mematikan mata pencaharian penduduk setempat, disatu sisi keahlian mereka dalam bidang perkebunan tidak ada dan disisi lain pelatihan pengetahuan tidak pernah mereka dapatkan.

Di Kalimantan tahun 2016 beberapa organisasi kemahasiswaan mengungkapkan, bahwa dengan adanya upaya pemerintah menyiapkan lahan seluas 3,5 juta hektar untuk transmigrasi, semakin memperkecil lahan untuk masyarakat lokal. Dari hitung-hitungan mereka, dengan luas pulau Kalimantan 54,9 juta ha, 43,8 juta dikavling perusahaan, untuk rakyat 11,8 juta hektar, maka lahan yang tersisa untuk penduduk setempat hanya 2,1 juta hektar yang ternyata lebih kecil dari luas wilayah untuk transmigrasi. Kondisi ini dianggap berbahaya, karena pemerintah dianggap lebih mementingkan warga transmigrasi dibanding penduduk setempat, kenyataan ini kemudian yang membuat mereka menolak program transmigrasi.

Bote, Bocah Pemberani Asal Malalayang

Dari berbagai penolakan terkait transmigrasi, seharusnya pemerintah melakukan moratorium terbatas dan melakukan kajian-kajian lebih lanjut dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat setempat. Dengan cara seperti ini, pemerintah akan mengetahui permasalahan masyarakat dan dengan mudah mencari jalan keluarnya. Memaksakan program transmigrasi, dengan anggapan memberikan harapan kehidupan ekonomi lebih baik tapi tanpa melakukan kajian sosiolkultural masyarakat setempat, mungkin hanya akan berhasil dibeberapa tempat tetapi tidak memberikan kepastian keberhasilan secara menyeluruh. Jangan sampai program yang bertujuan baik justru menghasilkan hasil negative yang merugikan semua pihak.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.