HARI lahirnya Film Indonesia 30 Maret 1950 ditandai dengan hari pertama pengambilan gambar film 'Darah dan Doa' atau 'Long Marc Of Siliwangi' yang disutradarai Umar Ismail. Hal ini menjadi awal perkembangan Film Indonesia.
Perfilman Indonesia dengan sejarah panjang bahkan sempat merajai perfilman di negara sendiri di tahun 1980-an. Diantaran, Catatan si Boy, Blok M dan film lain laris manis di bioskop-bioskop lokal. Bintang-bintang muda terkenal saat itu pun antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari.
Di tahun-tahun tersebut acara Festival Film Indonesia dilaksanakan tiap tahunnya dalam rangka memberikan penghargaan kepada insan film Indonesia. Tetapi karena satu dan lain hal perfilman Indonesia semakin jeblok pada tahun 90-an hingga membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema khusus orang dewasa. Di Tahun tersebut Film-film Hollywood dan Hong Kong merebut posisi, dan film Indonesia tak lagi menjadi tuan rumah di Negaranya.
Kemudian, Riri Riza dan Mira Lesmana muncul dengan film Petualangan Sherina yang diperankan Sherina Munaf, sang penyanyi cilik penuh bakat. Film ini menjadi tonggak kebangkitan perfilman Indonesia, hingga antrian panjang selama sebulan di bioskop. Setelah itu muncul film lainnya dengan segmen berbeda yang juga sukses secara komersil, semisal Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja, kemudian Ada Apa dengan Cinta yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ke kancah perfilman romance remaja. Sejak saat itu berbagai film dengan tema serupa yang dengan film Petualangan Sherina (film oleh Joshua, Tina Toon), yang mirip dengan Jelangkung (Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung), dan juga romance remaja seperti Biarkan Bintang Menari, Eiffel I'm in Love memberikan gairah bagi perfilman Indonesia.
Saat ini dapat dikatakan dunia perfilman Indonesia tengah menggeliat bangun. Masyarakat Indonesia mulai mengganggap film Indonesia sebagai sebuah pilihan di samping film-film Hollywood. Walaupun variasi genre filmnya masih sangat terbatas.
Semoga perfilman Indonesia terus bangkit dan memberi warna dalam perfilman dunia.

Post a Comment