Suara Pembaharu ideas 2018


Judul Buku : Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan

Penulis : Ajip Rosidi

Kategori Buku : Otobiografi

Penerbit : Pustaka Jaya

Harga : Rp. 300.000,- (Harga Normal), Rp. 98.000,- (Harga Subsidi)

Tebal :1330 Halaman

Cetakan: Januari 2008

Buku terbitan Pustaka Jaya ini, merupakan Otobiografi dari Ajip Rosidi tentang kenangan 70 tahun perjalanan hidupnya. Buku yang cukup tebal, namun memiliki tingkat bahasa yang sangat mudah dipahami. Seluruh bukunya ditulis dengan gaya polos dan seadanya tanpa ada usaha pencitraan untuk dirinya sendiri.

Tokoh Inspiratif dari tataran sunda ini memang sangat luar biasa. Lahir di Jatiwangi, Majalengka – Jawa Barat, 31 Januari 1938 merupakan seorang budayawan, penulis sastrawan, dosen dan redaktur beberapa penerbit. Namanya selalu disandingkan dengan banyak sekali sastrawan kelas atas di Indonesia, seperti Taufik Ismail, W.S Rendra, atau Sutan Takdir Alisyahbana. Sampai saat ini telah lebih dari 110 judul, baik kumpulan cerita pendek, kumpulan sajak, roman, drama dan kritik asli tulisannya sendiri telah beliau bukukan. Selain itu, 326 judul karyanya telah dimuat dalam 22 majalah.

Menempuh pendidikan terakhir di Taman Siswa Jakarta 1956, dengan status tidak tamat, justru membuat tokoh ini semakin melejit dalam dunia sastra. Berawal ketika ujian nasional sekolah menengah ditahun 1956 yang dikabarkan sering mengalami kebocoran soal. Banyak orang pada saat itu menyogok guru sekolah atau yang memperoleh soal ujian sebelum waktu ujian tiba. Dari hal itulah, idealisme kuat Ajip Rosidi muncul. Dia memilih untuk tidak mengikuti ujian sekolah menengah. Baginya hidup tidak harus digantungkan pada secarik kertas bernama ijazah yang memupuk seseorang menjadi mental pekerja.

Keyakinan itu menjadi nyata. Bintang terangnya telah muncul semenjak dia remaja. Buku pertamanya yang berjudul tahun-tahun kematian (kumpulan cerita pendek) terbit sejak dia berumur 17 tahun. Mempelajari sastra secara otodidak menjadikannya lebih terpacu. Sekarang dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, (3 tahun setelah buku otobiografi ini terbit), Ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Sumber Wikipedia).

Didalam buku ini dibahas, tentang bagaimana sudut pandang Ajip Rosidi terhadap agama. Ajip muda mengaku sempat menjadi atheis. Dia sempat ragu tentang agama. Sampai dia melakukan berbagai pencarian untuk menghilangkan rasa hausnya terhadap agama. Dimulai dari jalur kebathinan, membedah karya-karya religi dari Haji Hasan Mustapa, sampai membedah buku-buku tauhid dan mendalami ilmunya kepada guru-guru. Sehingga dia menemukan dan merasakan agama Islam sebagai jalan satu-satunya.

Didalam buku tebal ini, dijabarkan juga pembahasan cukup panjang mengenai pergerakan Lekra, yakni organisasi kebudayaan yang menjadi corong PKI. Diceritakan juga, dulu Sahabat dekat Ajip Rosidi berada di kubu-kubu yang bisa dikatakan besebrangan dalam hal ideologi. Katakanlah dari kubu kiri yakni Sitor Situmorang, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani. Dari kubu sebelahnya seperti Taufik Ismail, Umar Ismail, H.B. Jassin. Pada saat itu, cukup terjadi suasana panas antar mereka.

Kedua kelompok tentu saja menyebut diri pancasialis sejati dan revolusioner. Kedekatan dengan Bung Karno juga diperebutkan. Kaum kiri menyebut dirinya pendukung setia Bung Karno dan menuduh kaum kanan anti-Bung Karno. Demikian Pula sebaliknya.

Puncak pertarungan disulut oleh pidato Soekarno yang diberi judul Manifesto Politik. Kaum kiri segera menyebut diri mereka Manipolis sejati sedangkan kaum kanan menyebut anti-manipol, tak lama kemudian lalu mereka mengeluarkan pernyataan politik kebudayaan yang disebut manifes kebudayaan.

Ajip Rosidi jelas sekali menentang pemikiran dari PKI, namun tak membuat dirinya menjadi musuh dari lawan ideologi yang merupakan masih sahabatnya. Bahkan saking dekatnya itu, terutama dengan Sitor Situmorang dan Utuy T. Sontani, Ajip sering dituduh bahwa Dia merupakan bagian dari orang-orang kiri.

Selain daripada itu, Ajip juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan beberapa tokoh politik pada zaman itu, sebut saja mantan wapres Adam Malik, Mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin atau Sjafrudin Prawiranegara. Bahkan oleh Sjafrudin Prawiranegara ajip sudah dianggap anak kandung sendiri, oleh karena itu Ajip memanggil beliau Ayah.

Walaupun terlihat kasat mata memiliki ketebalan yang sangat menyeramkan, buku ini sangat menarik. Cukup direkomendasikan bagi mereka yang ingin tahu sejarah masa lalu dari sudut pandang sastrawan/budayawan. Dibuku ini juga terpapar bagaimana sikap mempertahankan nilai-nilai keyakinan, sehingga banyak sekali manfaat yang bisa kita petik dari buku ini.

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.