Suara Pembaharu ideas 2018

suarapembaharu.com - Joey Alexander, menjadi salah satu dari anak Indonesia yang mampu menggeparkan dunia, lewat talentanya dibidang seni. Joey anak berumur 12 Tahun ini pun tercatat menjadi pianis jazz termuda dan pianis pertama asal Indonesia yang masuk nominasi Grammy Awards. Tidak main-main, pianis muda ini meraih dua nominasi Grammy Awards ke-58 tahun 2016, pada kategori Best Jazz Instrumental Album untuk albumnya yang bertajuk My Favorite Things. Dan kategori Best Improvised Jazz Solo untuk nomor 'Giant Steps' yang juga diambil dari album yang sama.
Joey Alexander (Istimewa)
Joey yang lahir dan besar di Denpasar, Bali, sudah menunjukkan bakat musiknya sejak berumur 6,5 tahun. Ketertarikan Joey dalam musik jazz dan piano berkat Ayahnya, Denny Sila, yang selalu mengenalkannya mahakarya-mahakarya jazz, membelikan keyboard mungil merek Casio bagi Joey hingga memberi contoh cara bermain keyboard walau keahlian Denny dalam bermain piano tidak begitu jago.

Setelah lancar, Joey kemudian meminta ayahnya menyingkir dari kursi keyboard dan dengan kemampuan Joey memainkan lagu Thelonius Monk, Well You Needn’t, membuat Denny dan Farra takjub hingga keduanya memutuskan untuk mendaftarkan Joey ke sekolah musik Purwacaraka dan berlanjut ke sekolah musik klasik Farabi di Jakarta.

Guru les Joey yang melihat bakat hebat anak ini langsung terpesona, karena jika siswa lain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk ­mempelajari satu, Joey menguasainya hanya dalam tiga pekan. Bahkan beberapa lagu tertentu bisa dipelajari Joey dalam waktu tiga hari.

Walau sempat mengikuti les piano klasik, Joey kemudian tidak melanjutkannya karena terlanjur mencintai musik jazz, yang baginya memberikan kebebasan, spontanitas, dan ekspresi. Sejak berusia 7 tahun, Joey tak lagi mengambil kursus musik klasik karena menurutnya teralu terpaku pada partitur dan terus menekuni musik jazz. Joey pun lebih suka belajar otodidak.

Di usia 8 tahun, Joey mendapat undangan dari pusat kebudayaan Amerika untuk bermain di depan ikon jazz Herbie Hancock, yang saat itu sedang bertandang ke Jakarta. Di hadapan Hancock, Joey pun membawakan Watermelon Man ciptaan Hancock yang membuat Hancock terpana dengan kemampuan Joey.

Dalam kesempatan itu, Hancock mengatakan bahwa ia percaya dengan kemampuan Joey dan penyampaiannya pesan tersebut yang memicu Joey untuk memutuskan mendedikasikan hidupnya untuk jazz hingga karier Joey pun terus melesat.

Di tahun 2014, Joey dan keluarga harus tinggal di Amerika Serikat dan Pemerintah Amerika Serikat memberi keluarga Joey visa tinggal bagi individu berkemampuan istimewa.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.